OPINI | 24 August 2010 | 02:47 362 8 Nihil
Adalah menarik bahwa tingkat kecerdasan seseorang tidak ada korelasinya dengan kepercayaannya kepada Tuhan atau kepada teori evolusi. Menurut John C. Avise, seorang evolusionis, ( mengutip E.J. Larson dan L. Witham, “Scientist are Still Keeping the Faith,” Nature 386 (1996): 435-436.) pada 1916, James Leuba melakukan survey bersejarah terhadap ribuan praktisi sains perihal masalah ketuhanan. Ia menemukan bahwa 40 persen di antara mereka yang disurvey tetap meyakini suatu Tuhan personal dan kehidupan akhirat. Leuba memperkirakan keyakinan semacam itu akan terkikis secara dramatis seiring berkembangnya sains di abad terakhir ini, namun survei serupa yang dilakukan 80 tahun kemudian menunjukkan bahwa persentase ilmuwan yang masih meyakini Tuhan sebagai tujuan memanjatkan doa dengan harapan dikabulkan, nyaris sama. Jelaslah bahwa tingkat intelektualitas sesorang tidak menentukan pilihan bebas seseorang untuk beriman kepada Sang Pencipta-nya. Ilmuwan-ilmuwan yang beriman seperti Sir Isaac Newton, Thomas Alfa Edison, Michael Faraday, Blaise Pascal, Albert Einstein, dan lain-lain, tidak kurang cerdas daripada Charles Darwin dan para pendukungnya. Agaknya agama dan sains itu tidak bertentangan karena keduanya bekerja di bidang yang berbeda, agama menyelidiki wahyu khusus dari Sang Pencipta yaitu Kitab Suci, sedangkan sains menyelidiki wahyu umum dari Tuhan yaitu, alam semesta ciptaannya dan hukum-hukum yang mengaturnya.
Gregor Mendel dan Charles Darwin adalah dua orang tokoh yang hidup pada jaman yang sama. Yang menarik di sini adalah bahwa keduanya mewakili atau melambangkan dua hal yang sama sekali berbeda, yaitu sains dan kepercayaan atau filsafat. Mendel mengembangkan ilmu tentang hereditas atau keturunan, yang merupakan cikal bakal ilmu genetika moderen. Sedangkan Darwin mengembangkan teori evolusi-nya. Mendel adalah Bapak Ilmu Genetika sedangkan Darwin adalah Bapak Teori Evolusi. Tetapi keduanya ada di bidang yang berbeda. Mendel mengembangkan sesuatu yang sepenuhnya ilmiah dan mengadakan eksperimen-eksperimen dengan metode-metode ilmiah. Ilmu genetika beranjak dari sesuatu yang sepenuhnya faktual, ilmiah dan rasional.
Sedangkan Darwin memulainya dari ketidak-percayaannya atau mungkin juga kekecewaannya kepada Tuhan ( putri Darwin meninggal pada usia 10 tahun, dan hal ini sangat memedihkan hatinya ). Atas dasar itu, bahwa tidak ada Tuhan, ia mengembangkan dan mengadopsi ‘teori kebetulan.’ Karena tidak ada Tuhan maka segala sesuatu pasti terjadi secara kebetulan atau dengan sendirinya, tidak ada yang mengatur dan mengendalikannya. Atas dasar itu ia mulai membangun suatu bangunan spekulatif dengan menyusun teori evolusi. Di atas dasar spekulasi ia membangun spekulasi berikutnya. Karena itu sebagian besar isi dari teori evolusi hanyalah dugaan-dugaan dan pendapat-pendapat pribadi belaka. Karena dalam teori evolusi tidak ada sesuatu yang bersifat ilmiah seperti ilmu genetika yang dikembangkan oleh Mendel maka teori ini lebih tepat jika disebut sebagai suatu sistem kepercayaan atau suatu filsafat belaka alih-alih disebut sebagai sains.
Bayangkan jika ada suatu bidang sains yang disebut sebagai “ Biologi Kristen” atau “Fisika Islam” atau “Kimia Budhis.” Kata yang pertama behubungan dengan sains sedang yang kedua adalah kepercayaan. Seorang beragama Kristen mungkin saja mempunyai pengetahuan dan keahlian teknis dalam bidang biologi yang tidak kalah dengan seorang yang beragama Hindu. Kepercayaan seseorang tidak ada hubungannya dengan keahlian teknis dan pengetahuannya. Karena itu mengawinkan kedua hal itu menjadi suatu bidang sains tersendiri adalah sesuatu yang sangat janggal ( absurd ). Tetapi anehnya di negara yang sangat maju seperti Amerika Serikat ada suatu bidang sains yang disebut dengan “ Genetika Evolusioner .” Padahal dari penjelasan di atas jelas kedua hal tersebut bagaikan besi dengan tanah liat, keduanya tidak dapat dicampurkan-adukkan. Keduanya jelas berbeda secara substansial yang satu adalah sains murni sedang yang lain adalah kepercayaan murni karena teori evolusi tidak lain adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada.
Menurut pendapat saya mencoba mencampur-adukkan sains dan kepercayaan jelas adalah usaha lain dari kaum evolusionis untuk mengelabui masyarakat. Teori evolusi adalah suatu sistem kepercayaan yang berusaha menyaru sebagai suatu sains. Dan salah satu dari usaha ini adalah dengan “mengawinkan” kedua hal yang sangat berbeda tersebut. Bahkan dalam berbagai paparan, dari tulisan-tulisan dan tayangan-tayangan, mereka jelas-jelas sedang berusaha mengelabui masyarakat. Bagaimana cara mereka mengelabui? Dengan menyajikan fakta-fakta ilmiah bersama-sama dengan pemaparan teori mereka sendiri. Mereka menyajikan sesuatu yang sebenarnya merupakan pendapat-pendapat pribadi, perkiraan-perkiraan dan dugaan-dugaan mereka, seolah-olah itu adalah suatu fakta yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan untuk memperkuat penipuan ini mereka menyandingkannya dengan hal-hal yang memang benar-benar faktual dan ilmiah. Manakala saya membaca buku “ The Genetic Gods” ( karangan John C. Avise, diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit Serambi ) saya menemukan hal-hal semacam ini, ilmu genetika dicampur-baurkan dengan teori evolusi, pendapat pribadi disamarkan sebagai fakta-fakta yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Buku semacam ini telah ditulis oleh seorang yang menyebut diri ahli dalam bidang “ genetika evolusioner.” Jika seseorang membaca buku ini dengan teliti dan kritis maka nampak dengan jelas bahwa buku ini sama sekali bukanlah buku sains melainkan hanya berpura-pura demikian. Isinya yang sesungguhnya adalah berusaha membuktikan kebenaran teori evolusi dan ateisme, dan sebaliknya berusaha memojokkan dan melecehkan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan, Sang Pencipta. Tetapi yang tidak dapat diterima adalah caranya yang mengelabui.
Sumber: KOMPAS.com
© 2008 – 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar