Halaman

Kamis, 16 Desember 2010

Konsep Gizi Seimbang

August 21st, 2009 lusa Leave a comment Go to comments

Pengantar

Masalah kesehatan masyarakat di Indonesia adalah masalah gizi kurang dan gizi lebih. Pola pertumbuhan dan status gizi merupakan indikator kesejahteraan. Oleh karena itu, perlu adanya program gizi yang berguna untuk mendorong kedua hal tersebut.

Masalah gizi menyebabkan kualitas SDM menjadi rendah. Adapun tujuan program pangan dan gizi yang dikembangkan untuk mencapai Indonesia Sehat 2010 adalah :

1. Meningkatkan ketersediaan komoditas pangan pokok dengan jumlah yang cukup, kualitas memadai dan tersedia sepanjang waktu melalui peningkatan produksi dan penganekaragaman serta pengembangan produksi olahan.
2. Meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memantapkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
3. Meningkatkan pelayanan gizi untuk mencapai keadaan gizi yg baik dengan menurunkan prevalensi gizi kurang dan gizi lebih.
4. Meningkatkan kemandirian keluarga dalam upaya perbaikan status gizi untuk mencapai hidup sehat.

Sejarah Gizi Seimbang

Pada tahun 1992 diselenggarakan konggres gizi internasional di Roma. Konggres tersebut membahas pentingnya gizi seimbang untuk menghasilkan kualitas SDM yang handal. Hasilnya adalah rekomendasi untuk semua negara menyusun PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang). Sebenarnya di Indonesia, pada tahun 1950 pernah diperkenalkan pedoman 4 sehat 5 sempurna, yang kemudian setelah adanya konggres gizi internasional di Roma dikembangkan PUGS pada tahun 1995.
Slogan 4 sehat 5 sempurna merupakan bentuk implementasi PUGS dan terdapat 13 pesan dalam PUGS.

Pengertian Gizi Seimbang

Gizi Seimbang adalah makanan yang dikonsumsi oleh individu sehari-hari yang beraneka ragam dan memenuhi 5 kelompok zat gizi dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan (Dirjen BKM, 2002).
Menu seimbang : menu yang terdiri dari beranekaragam makanan dengan jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan (Almatsier, 2001)
Peranan berbagai kelompok bahan makanan tergambar dalam piramida gizi seimbang yang berbentuk kerucut. Populer dengan istilah “TRI GUNA MAKANAN”.

Pertama, sumber zat tenaga yaitu padi-padian dan umbi-umbian serta tepung-tepungan yang digambarkan di dasar kerucut.
Kedua, sumber zat pengatur yaitu sayuran dan buah-buah digambarkan bagian tengah kerucut.

Ketiga, sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil olahan, digambarkan bagian atas kerucut.

piramid makanan

Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Gizi Seimbang

1. Ekonomi (terjangkau dengan keuangan keluarga)
2. Sosial budaya (tidak bertentangan)
3. Kondisi kesehatan
4. Umur
5. Berat badan
6. Aktivitas
7. Kebiasaan makan (like or dislike).
8. Ketersediaan pangan setempat.

13 Pesan Umum Gizi Seimbang

1. Makanlah aneka ragam makanan.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi.
5. Gunakan garam beryodium.
6. Makanlah makanan sumber zat besi.
7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya.
8. Biasakan makan pagi.
9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya.
10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur.
11. Hindari minuman yang beralkohol.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.

Pesan 1: Makanlah aneka ragam makanan

Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat untuk kesehatan. Makanan harus mengandung unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kuantitas maupun kualitas.
Idealnya, ada zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

Pesan 2: Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi

Kebutuhan energi dapat tercukupi dengan mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat, protein dan lemak. Tanda kecukupan energi dapat dipantau dengan keadaan berat badan yang normal. Pemantauan berat badan dilakukan pada bayi, balita dan usia sekolah dengan menggunakan KMS; pada orang dewasa dengan penghitungan IMT (Indeks Massa Tubuh); dan pada lansia dengan KMS Usila.
Kelebihan energi disimpan dalam bentuk lemak/ jaringan lain. Bila kelebihan tersebut berlanjut maka akan timbul penyakit (hipertensi, jantung, DM, dll). Sedangkan untuk menutupi kekurangan energi, diambilkan cadangan energi dari jaringan otak/ lemak. Bila keadaan ini berlanjut sebabkan penurunan daya kerja/ produktivitas kerja, prestasi belajar dan kreativitas, penurunan BB dan kekurangan gizi lain.

Pesan 3: Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi

Dua kelompok karbohidrat adalah karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Golongan karbohidrat kompleks: padi-padian (beras, jagung, gandum); umbi-umbian (singkong, ubi jalar, kentang) serta tepung, sagu dan pisang. Karbohidrat kompleks penyerapannya lebih lama sehingga tidak membuat mudah lapar.
Golongan karbohidrat sederhana : gula (menyebabkan mudah lapar).
Pembatasaan konsumsi gula dianjurkan sampai 5% dari jumlah kecukupan energi atau ± 3 – 4 sendok makan setiap hari.
Apabila energi yang diperoleh dari makanan sumber karbohidrat kompleks (selain gula) melebihi 60% atau 2/3 bagian dari energi yang dibutuhkan, maka kebutuhan protein, vitamin dan mineral sulit dipenuhi.

Pesan 4: Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi

Adapun guna lemak dan minyak adalah untuk meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin A, D, E, K dan menambah lezat hidangan.
Tiga golongan lemak: lemak yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda (paling mudah dicerna), lemak yang mengandung asam lemak tak jenuh tunggal (mudah dicerna), dan lemak yang mengandung asam lemak jenuh (sulit dicerna).
Makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan tak jenuh tunggal: berasal dari nabati, kecuali minyak kelapa. Sedangkan makanan sumber asam lemak jenuh: berasal dari hewani.
Konsumsi lemak dan minyak kurang sama dengan 10% dan tidak lebih dari 25 % dari kebutuhan energi. Komposisi konsumsi lemak nabati: hewani= 2 : 1

Kebiasaan mengkonsumsi lemak hewani berlebihan menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner. Sedang makan ikan mengurangi risiko penyakit jantung koroner, oleh karena lemak ikan mengandung asam lemak omega 3. Asam lemak omega 3 berperan mencegah terjadinya penyumbatan lemak pada dinding pembuluh darah.

Pesan 5: Gunakan garam beryodium

Garam beryodium yang dianjurkan adalah garam dg KIO3 (Kalium iodat) sebanyak 30-80 ppm. Sesuai Keppres No. 69 tahun 1994 menyatakan bahwa kekurangan yodium dapat mengakibatkan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium); gondok; kretin dan penurunan IQ.
Indonesia kehilangan 140 juta IQ point akibat GAKY .
Dasar penghitungan klasifikasi pengurangan point IQ adalah :
Kretin (GAKY berat) 50 poin
Gondok 5 poin
Bayi di daerah GAKY 10 poin
GAKY bentuk lain 10 poin

Catatan :
Rata-rata IQ manusia normal = 110
IQ dibawah 80 point tergolong bodoh
IQ point merupakan ukuran kemampuan seseorang dalam hal berpikir, memecahkan masalah dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.
Anjuran pemberian yodium :
Anak SD (daerah endemik berat) 1 kapsul / tahun
Wanita usia subur (WUS) 2 kapsul / tahun @ 200 mg
Ibu hamil 1 kapsul / tahun
Ibu menyusui 1 kapsul / tahun selama menyusui

Konsumsi garam beryodium ± 6 gram per hari/ 1 sendok teh.
Mutu garam baik dengan Tes Kit Yodina. Hasil warna garam yang bermutu baik adalah biru keunguan.

Pesan 6: Makanlah makanan sumber zat besi

Fe merupakan unsur penting untuk pembentukan sel darah merah. Kekurangan Fe dapat berakibat Anemia Gizi Besi (AGB). Adapun Tanda-tanda AGB : pucat, lemah lesu, pusing dan penglihatan berkunang-kunang; kadar Hb kurang dari normal.
Resiko AGB bagi ibu hamil adalah BBLR, perdarahan dan kematian. Bagi anak-anak adalah kemampuan belajar turun. Sedangkan bagi orang dewasa adalah penurunan produktivitas kerja.
Sumber utama zat besi adalah bahan pangan hewani dan kacang-kacangan serta sayuran berwarna hijau tua. Zat besi Fe pangan asal hewani/haeme lebih mudah diserap (10-20%) daripada zat besi pangan asal nabati/non haeme (1-2%).
Insidensi atau angka kejadian AGB di Indonesia : tidak lebih sama dengan 63% bumil dan 55% balita.
Zat gizi yang membantu penyerapan Fe diantaranya protein hewani seperti daging, ikan dan telur, vitamin C, vitamin A, Zink (Zn) dan asam folat.
Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi ibu hamil adalah 1 TTD selama 90 hari. Untuk balita dapat diberikan preparat besi dalam bentuk sirup. Kandungan 1 TTD = 200 mg ferrosulfat = 60 mg besi elemental + 0,25 mg asam folat.

Pesan 7: Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya

ASI merupakan makanan terbaik bayi. Pemberian : 0-6 bulan (ASI Eksklusif = pemberian ASI saja tanpa makanan lain). Kegagalan ASI Eksklusif sebabkan jumlah sel otak berkurang 15-20%.
MP-ASI: makanan/ minuman pendamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Pesan 8: Biasakan makan pagi

Manfaat makan pagi adalah untuk memelihara ketahanan fisik, mempertahankan daya tahan tubuh, meningkatkan produktifitas kerja dan meningkatkan konsentrasi belajar.
Kebiasaan makan pagi, membantu memenuhi kecukupan gizi sehari-hari. Sedangkan resiko tidak membiasakan makan pagi adalah gangguan kesehatan yang berupa menurunnya kadar gula darah.

Pesan 9: Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya

Air yang kita minum harus bersih dan aman (bebas dri kuman). Fungsi air dalam tubuh adalah untuk melancarkan transportasi zat gizi dlm tubuh; mengatur keseimbangan cairan dan garam mineral dalam tubuh; mengatur suhu tubuh; melancarkan dlm buang air besar dan buang air kecil.
Kebutuhan air minum ± 2 liter sehari/ 8 gelas sehari, dengan kecukupan air minum dapat mencegah dehidrasi dan menurunkan resiko batu ginjal.

Pesan 10: Lakukan aktivitas fisik secara teratur

Manfaat dari melakukan aktifitas fisik adalah meningkatkan kebugaran; mencegah kelebihan berat badan; meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot; memperlambat proses penuaan. Olahraga teratur disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan kondisi kesehatan. Salah satunya dengan membiasakan jalan kaki dengan jarak tempuh ± 50-100 m.

Pesan 11: Hindari minuman yang beralkohol

Alkohol mengandung energi, tapi tidak terdapat unsur gizi lain. Akibat kebiasaan minum minuman beralkohol adalah terhambatnya proses penyerapan gizi; hilangnya zat-zat gizi yang penting, meski mengkonsumsi makanan bergizi dalam jumlah yang cukup; kurang gizi; penyakit gangguan hati; kerusakan saraf otak dan jaringan. Sedangkan efek samping minuman alkohol: sering buang air kecil, ketagihan dan hilang kendali diri.

Pesan 12: Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan

Selain bergizi lengkap dan seimbang, makanan juga harus layak konsumsi (aman untuk kesehatan). Syarat makanan aman adalah “wholesome” (zat-zat gizi tidak banyak yang hilang dan bentuk fisiknya masih utuh. Kecuali, bila makanan sengaja akan diolah dan diubah bentuk fisiknya).
Ciri makanan yang tidak sehat adalah berlendir, berjamur, aroma dan rasa berubah; lewat tanggal kadaluwarsa dan rusak pada kemasan; terdapat zat/ bahan pengawet; cara pengolahan yang tidak benar.

Pesan 13: Bacalah label pada makanan yang dikemas

Label adalah keterangan tentang isi, jenis, ukuran bahan-bahan yang digunakan, susunan zat gizi, tanggal kadaluwarsa dan keterangan penting lain.
Beberapa singkatan yang lazim digunakan dalam label antara lain:
MD Makanan yang dibuat di dalam negeri
ML Makanan luar negeri (import)
Exp Tanggal kadaluarsa, artinya batas waktu makanan tersebut masih layak dikonsumsi. Sesudah tanggal tersebut, makanan tidak layak dikonsumsi
SNI Standart Nasional Indonesia (keterangan mutu makanan telah sesuai dengan persyaratan)
SP Sertifikat penyuluhan

Referensi
Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.
Auliana, R. Gizi Dan Pengolahan Pangan. Mitra Gama Widya, Jakarta, 1999.
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Buku Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Jakarta, 2002.
Francin, P. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. EGC, Jakarta, 2005.
Hananto, W. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil, Dan Menyusui Dengan Bahan Makanan Lokal. Sagung Seto, Jakarta, 2002.
Soekirman. Perlu Paradigma Baru Untuk Menanggulangi Masalah Gizi Makro Di Indonesia. Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), 2000.
www.gizi.net.
Bookmark and Share
Tulisan Sejenis :

1. Gizi Seimbang Bagi Ibu Hamil
2. Gizi Seimbang pada Remaja dan Dewasa
3. Konsep Dasar Ilmu Gizi
4. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil Part 1
5. Gizi Seimbang Bagi Ibu Menyusui
6. Menu Seimbang untuk Ibu Hamil
7. Gizi Seimbang Bagi Bayi
8. Latihan Soal Gizi dalam Kesehatan Reproduksi Bagian VI
9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gizi Ibu Hamil
10. Latihan Soal Gizi dalam Kesehatan Reproduksi Bagian II

Categories: Gizi Tags: konsep gizi seimbang, penyusunan gizi, PUGS, sejarah
Comments (20) Trackbacks (0) Leave a comment Trackback

Copyright © 2009-2010 LUSA
Theme by NeoEase. Valid XHTML 1.1 and CSS 3.

Selasa, 30 November 2010

Sindrom Darah Kental

Sindrom darah kental adalah penyakit autoimun yang menyebabkan darah menjadi kental. Sindrom yang dapat terjadi pada semua golongan usia ini pertama kali ditemukenali oleh Hughes sehingga kelainan ini dinamakan sindrom Hughes (Hughes Syndrome) dan oleh karena pada penderita sindrom ini ditemukan antibodi antifosfolipid di dalam darahnya, kelainan ini juga disebut sebagai sindrom antifosfolipid (Antiphospholipid Syndrome/APS)

Antibodi antifosfolipid merupakan salah satu faktor risiko trombosis dimana darah di dalam tubuh cenderung kental dan mudah membeku sehingga dapat menyebabkan sumbatan di dalam pembuluh darah nadi (arteri) maupun pembuluh darah balik (vena). Keberadaan antibodi terhadap fosfolipid ini dapat diketahui melalui pemeriksaan antibodi dalam darah dengan mendeteksi adanya Antibody Anticardiolipin (ACA) dan Lupus Anticoagulan (LA). Adanya antibodi ini pada seseorang tidak serta merta atau tidak secara absolut menunjukkan bahwa akan terjadi pembekuan darah, namun kemungkinan terjadinya pembekuan darah akan lebih besar daripada orang lain. Banyak individu dengan antibodi ini tidak mengalami sumbatan pembuluh darah (trombosis), ada yang baru akan mengalami gejala akibat trombosis suatu saat kemudian, namun ada pula yang menunjukkan gejala sindrom darah kental ini di usia muda. Seseorang harus memenuhi beberapa kriteria tertentu untuk didiagnosis menderita sindrom darah kental.

Terdapat sejumlah penyebab kecenderungan terjadinya pembekuan darah selain sindrom ini. Perlu pula diketahui faktor lain yang dapat menimbulkan trombosis seperti merokok, imobilisasi (tirah baring lama akibat sakit, perjalanan panjang dengan kendaraan/pesawat lebih dari 6 jam, dan sebagainya), dehidrasi, obat kontrasepsi hormonal, dan penyakit autoimun lain. Selain itu, terdapat kecenderungan genetik atau keturunan dalam kasus darah kental.

Akibat darah kental, pasokan darah yang membawa oksigen, zat-zat nutrisi, dan lain-lain ke organ dan jaringan di dalam tubuh dapat berkurang bahkan terhenti sama sekali, -tergantung pada tingkat keparahan kelainan tersebut-, sehingga menimbulkan gangguan pada berbagai organ di dalam tubuh. Gejala pada otak berupa sakit kepala atau migren berulang, vertigo, kejang, daya ingat menurun, bahkan strok yang tidak lazim pada usia 40-an. Gejala pada mata dapat menyebabkan penglihatan kabur hingga buta mendadak. Pada telinga dapat terjadi pendengaran berkurang bahkan tuli mendadak. Gejala pada jantung dapat berupa serangan jantung. Organ lain seperti ginjal, hati, paru-paru juga dapat mengalami trombosis, demikian pula pada kulit dan vena dalam di lengan atau kaki.

Khusus pada perempuan, sindrom ini dapat menyebabkan kesuburan berkurang, keguguran berulang, janin tidak berkembang bahkan meninggal dalam kandungan, preeklamsia-eklamsia, dan trombosis vena kaki pada saat mulai menggunakan alat kontrasepsi hormonal (misalnya pil KB). Pada masa kehamilan darah secara alamiah menjadi sedikit lebih kental dibandingkan saat tidak hamil. Hal ini ditambah dengan adanya antibodi antifosfolipid akan menyebabkan darah sulit mencapai pembuluh-pembuluh darah kapiler yang kecil di ari-ari (plasenta), mengakibatkan aliran darah ke janin berkurang sehingga dapat terjadi keguguran dan kematian janin.

Sindrom darah kental dapat diobati. Obat-obatan yang lazim digunakan adalah Aspirin dosis rendah (75-100 mg/hari), Warfarin, dan Heparin (Unfractionated Heparin/UFH atau Low Molecular Weight Heparin/LMWH). Aspirin dosis rendah efektif untuk mengurangi kelengketan trombosis, sedangkan Warfarin dan Heparin bermanfaat untuk mengencerkan darah (antikoagulan).

Warfarin berupa tablet yang diminum. Dosis Warfarin yang diberikan pada penderita ditentukan secara uji coba dengan titrasi sampai didapatkan dosis yang dapat membuat darah menjadi encer tetapi tidak menyebabkan komplikasi perdarahan. Pengukuran yang digunakan adalah International Normalized Ratio/INR) yang membandingkan darah pasien dengan darah normal, semakin tinggi rasio, darah semakin kurang kental (semakin encer). Pengukuran INR tersebut dilakukan secara berkala dan dicatat dalam kartu catatan khusus mengenai dosis antikoagulan dan hasil INR. Umumnya diharapkan target INR antara 2-3.

Heparin, baik UFH maupun LMWH, diberikan lewat suntikan/injeksi. LMWH dapat disuntikkan sendiri oleh penderitanya dengan mudah menggunakan jarum suntik kecil yang telah tersedia dalam paket obatnya. Heparin digunakan pada tiga kondisi utama, yakni segera setelah terjadinya trombosis karena mula kerjanya cepat, menjelang operasi atau melahirkan karena kerja obat dapat dihentikan dan dimulai lebih cepat daripada Warfarin, dan digunakan bila diperlukan pada kehamilan karena Warfarin dapat berbahaya dan bersifat racun bagi perkembangan janin pada masa kehamilan tertentu.

Bila kontrol dengan obat yang tepat tercapai, penderita sindrom darah kental dapat kembali hidup normal.

Telah dibaca 6445 kali

English Version

Senin, 25 Oktober 2010

Biology Jobs.com

Sources for Information on Careers in Biology, Conservation, and Oceanography

The National Museum of Natural History receives numerous requests for information on careers in the biological sciences. This pamphlet, prepared by the Department of Systematic Biology, Vertebrate Zoology Section,National Museum of Natural History, in cooperation with the Public Inquiry Mail Service, Smithsonian Institution, provides a listing of the career guidance leaflets published by the professional scientific societies as well as United States Government publications on careers in biology, conservation, and oceanography. Other sources for career information are also included.

Many of the publications listed contain bibliographies and suggest additional sources for career guidance. Information on career fields not listed can be obtained by writing to the pertinent professional scientific society. For the names and addresses of such societies consult the Encyclopedia of Associations, National Organizations of the U.S., 28th edition, l994. This encyclopedia is available at most large public libraries.

* General Biology
* Specific Career Fields in Biology
* Conservation
* Oceanography
* Additional Sources of Information

BIOLOGY

General information

* A Greatly Improved Outlook for College Graduates: An Update to the Year 2000. 1989. 8 pp. leaflet, No. 165V. $1.25. Describes employment opportunities for college graduates in the coming decade. Department of Labor. Available from R. Woods, Consumer Information Center-L, P.O. Box 100, Pueblo, CO 81002
* Careers in Biology III by R.H. and B.W. Saigo. 1989. 4 pp. Single copy, free. Includes salary levels, preparation, and employment opportunities. Also, a leaflet on Industrial Microbiology. American Institute of Biological Sciences, Education Division, 730 11th St., NW, Washington, DC 20001.
* Careers in Biology, an Introduction. 1991. Single copy free. National Association of Biology Teachers. 11250 Roger Bacon Drive, No. 19, Reston, VA 22090.
* "Careers '92: Alternate Paths" reprint from 18 September 1992, Vol. 257, No. 5077, Science magazine, pp. 1707-1766. Available from Science, American Association for the Advancement of Science, 1333 H Street, NW., Washington, DC 20005.
* Career Opportunities in the Sciences. 1986. Single copy, free. Available from the Office of Education. American Association for the Advancement of Science, 1333 H St., NW, Washington, DC 20005. A listing of sources of information.
* Federal Career Directory. 1990. Provides information on Federal employment; agencies and contact persons listed. 271 pages. Available from the U.S. Government Printing Office, Superintendent of Documents, Washington, DC 20402. Stock no. 006-000-01339-2. $31.00.
* Occupational Outlook Handbook. Published by the Bureau of Labor Statistics every two years. Profiles more than 800 jobs and possibilities for earnings, advancement, training and location of openings. It is the single best source of information on careers and is available at most libraries or may be ordered from the Superintendent of Documents, U.S. Government Printing Office, Washington, DC 20402. l992-93 edition, Stock no. 029-001-03091-6. $23.00 edition. Reprints of sections on careers in biology, conservation, fisheries are available from the Department of Labor, Bureau of Labor Statistics, Washington, DC. for $1.25 each.
* Opportunities in Biology. 1989. Committee on Research Opportunities in Biology, Board on Biology, Commission on Life Sciences. 448 pp. Available from National Academy Press, 2101 Constitution Ave., N.W., Washington, DC 20418. $42.50. A survey of the field; important trends.
* "Science Careers" reprint from 24 May 1991 Science magazine, pp. 1110-1148, $1.25 plus $1.50, postage and handling. Write to Science, American Association for the Advancement of Science, 1333 H St., NW, Washington, DC 20005. Trends for the 90's, recent data on salaries, hot fields, entering academia.
* The Job Outlook in Brief. l990-2005. 36 page pamphlet, $2.25. Projects job prospects for more than 250 occupations to year 2005. Superintendent of Documents, U.S. Government Printing Office, Washington, DC 20402. Stock no. 029-001-03124-6.
* Working for Life Careers in Biology by Thomas A. Easton. 2nd edition, 1988. Plexus, Medford, New Jersey. 127 pp. Available at public libraries.

Return to the List

SPECIFIC CAREER FIELDS IN BIOLOGY

** Various departments of government at state level publish information on careers and employment. Write to your State Department of Labor, Office of Education, Department of Natural Resources, Conservation, or Commerce at the capital city of your state.

ANIMAL BIOLOGY:

* Careers in Animal Biology. 1982. Single copy, free. American Society of Zoologists, Box 2739, California Lutheran College, Thousand Oaks, CA 91360.
* Careers in the Animal Kingdom by W. Oleksy. l980. Messner, New York. 255 pp. Question and answer format; interviews with 40 men and women in animal careers. Available at public libraries.
* Careers Working with Animals: an introduction to occupational opportunities in animal welfare, conservation, environmental protection, and allied professions by Guy R. Hodge. l981. Acropolis Books, Washington. l52 pp. Available at the Humane Society of the U.S., 2l00 L St., NW, Washington, DC 20037. $6.95. Manual describing animal-related careers, employment outlook, and a listing of colleges offering pertinent programs.
* Careers Working with Animals. Free leaflet. Brief description. Humane Society of the U.S., 2100 L St.,NW, Washington, DC 20037.
* Exploring Animal Care Careers by Charlotte Lobb. l980. Richard Rosen Press, New York. ll2 pp. Examines 20 careers, many of which require little or no post-high school training. Available at public libraries.
* The Purpose of Zoos & Aquariums. Free leaflet. 1984. American Association of Zoological Parks & Aquariums, Oglebay Park, Wheeling, WV 26003.
* Zoo & Aquarium Careers. Free Leaflet. l989. American Association of Zoological Parks and Aquariums. Oglebay Park, Wheeling, WV 26003.
* Zoo Jobs. Free leaflet. National Zoological Park, Washington, DC 20008.
* Zoo Keeping as a Career. Free leaflet. American Association of Zoo Keepers. Chicago Zoological Society. Brookfield Zoo, Brookfield, IL 60513.

BIOCHEMISTRY and MOLECULAR BIOLOGY:

* Unlocking Life's Secrets. Career Opportunities in Biochemistry and Molecular Biology. 1990. 16 page brochure. Single copy free. American Society for Biochemistry and Molecular Biology (ASBMB), 9650 Rockville Pike, Bethesda, MD 20816.

BOTANY:

* Careers in Botany. Single copy free. Available from Robert Essman, Botanical Society of America, Department of Botany, Ohio State University, 1735 Neil Ave., Columbus, OH 43210.
* Exploring Careers in Agronomy, Crops, and Soils. 25 page free booklet. American Society of Agronomy, 677 South Segoe Rd., Madison, WI 537ll. Describes job opportunities, salaries, and provides a list of universities and colleges to whom you may write for more information.
* Careers in Horticulture. a video from the American Society for Horticultural Science, 113 South West Street, Suite 40, Alexandria, VA 22314. Introduces students to horticulture career opportunities in production, design, marketing research, and teaching. Kit includes the VHS-format video, counselor's guide, 10 copies of a student brochure, and a list of schools with 4 year and advanced degree programs. Complete package is $39.95, including shipping.
* Plant Physiology. Free booklet.Updated. Society of Plant Physiologists, East Gude Drive, P.O. Box l688, Rockville, MD 20850

CELL BIOLOGY:

* Opportunities in Cell Biology. 1989 update. Booklet available from the American Society for Cell Biology, 9650 Rockville Pike, MD 20814.

ENTOMOLOGY:

* Discover Entomology. l989. 9 page booklet. Single copy free. Entomological Society of America, 9301 Annapolis Road, Suite 300, Lanham, MD 20706-3115.
* Entomologists in Agricultural Research Service. l978 revised. Free leaflet. U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research, Personnel Division, Federal Bldg., Hyattsville, MD 20782.

HERPETOLOGY:

* Career Opportunities for the Herpetologist. 1989. Single copy, free. The American Society of Ichthyologists and Herpetologists (ASIH), Secretary, Dr. Carter R. Gilbert, Florida Museum of Natural History, Department of Biology, University of Florida, Gainesville, FL 32611.
* Herpetology as a Career. 1985. Single copy free.Society for the Study of Amphibians and Reptiles (SSAR). Douglas H. Taylor, Department of Zoology, Miami University, Oxford, Ohio 45056.

ICHTHYOLOGY and FISHERIES SCIENCE:

* Careers in Fisheries. 1990. Free leaflet. American Fisheries Society, 5410 Grosvenor Lane, Suite 110, Bethesda, MD 20814-2199. Career choices and employment opportunities.
* Careers in Ichthyology. 1991. Prepared by Lynne Parenti and Richard P. Vari. 4 page free leaflet. American Society of Ichthyologists and Herpetologists (ASIH) Business Office, Department of Zoology, Southern Illinois University, Carbondale, IL 62901-6501
* Fisheries Programs and Related Courses at North American Colleges and Universities. 1990. 12 page leaflet. Single copy $.25. American Fisheries Society, 54l0 Grovesnor Lane, Bethesda, MD 208l4. A guide to students in selecting university fisheries programs: criteria, qualifications, listing of universities.
* Outdoor Opportunities in Forestry, Wildlife Management, Fisheries Management. l980. Employment Research Associates, P.O. Box l025, Albany, NY l220l. 5l pp. $6.95.

INVERTEBRATE ZOOLOGY:

* For career information, write to the American Society of Zoologists, Box 2793, California Lutheran College, Thousand Oaks, CA 93l60.

MAMMALOGY:

* Career Opportunities for Marine Mammal Trainers. Free leaflet. Sea World Education Department, l720 South Shores Rd., Mission Bay, San Diego, CA 92l09.
* Journal of Mammalogy, Vol. 75, No. 1, pp. 92-96, 1994. "Career trends in mammalogy," by G.W. Barrett and G.D. Peles.
* The Science of Mammalogy and Careers in Mammalogy. Free leaflets. American Society of Mammalogists, Cindy Rebar, Department of Biological Science, Murray State University, Murray, KY 42071.
* Strategies for Pursuing a Career in Marine Mammal Science. 14 page Supplement to Marine Mammal Science, Vol. 10, No. 2, April 1994. Available from Allen Press, P.O. Box 1897, Lawrence Kansas 66044-8897. Single student copy, $1.50; non-student copy, $2.70. Answers questions of salary, education, employment opportunities, practical experience, graduate study and programs, training, and additional sources of information. Additional information on marine mammal training, schools, and opportunities in the field is available from the International Marine Animals Trainer's Association, c/o Steve Shippe, Naval Ocean Systems Center, P.O. Box 997, Kailua, HI 96734-0997.

MICROBIOLOGY:

* Careers in Protozoology. Free leaflet. Society of Protozoologists, c/o Dr. R. Barclay McGhee, Department of Zoology, University of Georgia, Athens, GA 30602.
* Colleges and Universities Granting Degrees in Microbiology. Reprint listings, Single copy, $1.00. American Society for Microbiology, l9l3 I Street NW, Washington, DC 20006. Updated every two years.

ORNITHOLOGY:

* Careers in Ornithology. 1989. Reprinted from article in American Birds, Vol. 43, No. 1, pp. 29-37. Single copies of article available for $1.00, 10 for $3.00, 25 for $6.50. Send checks payable to AOU to Max C.Thompson, Asst. to American Ornithologists' Union (AOU) Treasurer, Department of Biology, Southwestern College, 100 College St., Winfield, KS 67156.

PALEONTOLOGY:

* Paleontology as a Career. Free leaflet. Department of Paleobiology, c/o Ray Rye, Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington, DC 20560.

PARASITOLOGY:

* Careers in Parasitology, Medical Zoology, Tropical Medicine. Free booklet. American Society of Parasitologists, P.O. Box 368, l04l New Hampshire St., Lawrence, KS 66044.

PHYSIOLOGY:

* Career in Physiology. 24 page booklet revised. American Physiological Society, 9650 Rockville Pike, Bethesda, MD 20014.

SCIENTIFIC ILLUSTRATION:

* Careers in Scientific Illustration. 10 page booklet, $1.50. Also, free leaflet, Art of Natural Science Illustration describing work of an illustrator and activities of the Guild. Scientific Illustration Courses and Books,$2.50, and Scientific Illustration, a Creative Source Directory (members) $18.00. Available from the Guild of Natural Science Illustrators, Inc. P.O. Box 652, Ben Franklin Station, Washington, DC 20044.

SYSTEMATIC ZOOLOGY:

* Careers in Biological Systematics. l986. Single copy,free. Additional copies, $1.00 each. Society of Systematic Zoology, c/o National Museum of Natural History, Attn. Cathy Bruwelheide, Rm. W 114, Smithsonian Institution, Washington, DC 20560.

Return to the List

CONSERVATION

* A Wildlife Conservation Career for You. 1987 update. Single copy free; 1-10 copies, 50 cents. Wildlife Society, 5410 Grosvenor Lane, Bethesda, MD 208l4.
* Career Guide 2000. Fishery, Forestry, Wildlife and Related Occupations by W.J. Hoagman, 1977, Reminston House, Hayes, VA. Booklet. Lists and describes occupations, specific and college requirements, schools and federal agencies. Available at libraries.
* Career Profiles. l979 revised. Free leaflet, FS 308. U.S. Department of Agriculture, Forest Service, P.O. Box 24l7, Washington, DC 200l3.
* Careers in Conservation : Profiles of People Working for the Environment by Ada and Frank Graham. l980. Sierra Club Books, Scribner's Sons, NY. Opportunities in conservation, endangered species, and public education.
* Careers in Ecology. Single copy free and on web site (http://www.esa.org/). Ecological Society of America, 2010 Massachusetts Ave, NW, Suite 400, Washington, DC 20036. Includes educational background, opportunities, prospects for employment and salary.
* Careers in the United States Department of the Interior. Xeroxed information sheets and various leaflets. Single copies free from the United States Department of the Interior, Fish and Wildlife Service, Publications Unit, Washington, DC 20240. Describes biological science position, educational requirements, summer positions, how to apply, where to file, and Federal Job Information Testing Offices.
* Careers: Professional and Administrative Careers 1986 .Free booklet. U.S. Department of Agriculture, Forest Service, P.O. Box 2417, Washington, DC 20013. Details career opportunities and qualifications for jobs in Forestry, Engineering, Geology, Hydrology, Landscape Architecture, Range Conservation, Research, Soil Science and Wildlife Management.
* Challenging Careers in Soil Conservation. l98l. Single booklet, free. U.S. Department of Agriculture, Soil Conservation Service, P.O. Box 2890, Washington, DC 200l3.
* Conservation Careers. 1983. Single copy, free. National Wildlife Federation, Education Division, l4l2 l6th St, NW, Washington, DC 20036.
* Conservation Directory. An excellent list of organizations, agencies and officials involved with natural resources management. Lists Colleges and Universities in the U.S.& Canada that have programs in biology, conservation, environmental sciences, and ocean sciences. $18.00 plus $3.95 shipping and handling from the National Wildlife Federation, 1412 16th St., NW, Washington, DC 20036.
* Endangered Species Update. April 1993, Vol. 10, No. 6 Supplement. 7 pages on "Careers: Advice from leading environmental professionals on how to get started." Compiled and edited by Lisa S. Yee and available from the School of Natural Resources and Environment, The University of Michigan, Ann Arbor, MI 48109-1115.
* Earth Work, Vol. 2 No. 6 pp. 6-31, 1992. "Conservation career closeup: National Marine Fisheries Service." by W. Fox. P.O. Box 550, Charlestown, NH 03603.
* Exploring Careers: Agriculture, Forestry and Fishery Occupations. Reprints from the Occupational Outlook Handbook. $1.25 each. U.S. Department of Labor, Bureau of Labor Statistics, Washington, DC.
* Exploring Careers in Agronomy, Crops, and Soils. 1989. Single copy free. American Society of Agronomy, Crop Science Society of America, Soil Science Society of America, 677 South Segoe Rd., Madison, WI 53711.
* Guide to Conservation Careers. l984. Single copy, free. List of references and leaflets on careers dealing with soil, water, fish, wildlife and forest conservation. National Association of Conservation Districts, Rm.ll05, l025 Vermont Ave., NW, Washington DC 20005.
* Make A Difference- Challenge Yourself with a Forest Service Career. 1990. Free 19 page booklet. Includes leaflets on how to apply and salary schedule. USDA, Forest Service, 12th & Independence SW, P.O. Box 96090, Washington, DC 20090-6090.
* National Park Service Careers Free 20 page booklet. U.S. Department of the Interior, National Park Service, P.O.Box 37126, Washington, DC 20013-7127.
* Opportunities in Environmental Careers by Odom Fanning. 3rd edition. 1981. National Textbook Co., Skokie, IL. 150pp. Available from public and university libraries.
* So You Want to be in Forestry. 16 page booklet. Single copy free. American Forestry Association and the Society of American Foresters. 5400 Grosvenor Lane, Bethesda, MD 20814. Also, Job Seekers' Guide available.
* Society of American Foresters Accredited Professional Forestry Degree Programs- 1989. Free leaflet. Lists programs and schools. American Foresters. 5400 Grosvenor La. Bethesda, Md 20814-2198.
* The Complete Guide to Environmental Careers. 1989. CEIP Fund, 68 Harrison Ave., Fifth Floor, Boston, MA 02111-1907.
* The Environmental Career Guide by N. Basta. 1992. John Wiley Press.
* Universities and Colleges Offering Curricula in Wildlife Conservation. 1983 update. Free leaflet. Wildlife Society, 7l0l Wisconsin Ave., Bethesda, MD 208l4.

**For information about conservation career opportunities in state agencies, write to your state Department of Conservation, Department of Natural Resources, or Department of Fish and Wildlife in the capital city of your state.

Return to the List

OCEANOGRAPHY

* Careers in NOAA 1991. Free 15 page booklet describes the kinds of jobs held by people working for the National Oceanic and Atmospheric Administration. Includes employment information. Available from the U.S. Department of Commerce, NOAA, Office of the Under Secretary for Oceans and Atmosphere. Washington, DC 20230.
* Careers in Oceanography and Marine Related Sciences. Free booklet published by the Oceanography Society is available from Patrick Dennis, Office of the Oceanographer of the Navy, OP-0996, 34th and Massachusetts Ave., NW, Washington, DC 20392.
* Careers in Oceanography. 25 pp. Single copy, free. Examines subfields of oceanography, undergraduate and graduate schools, and laboratories. Available from the American Geophysical Union, 2000 Florida Ave.,NW, Washington, DC 20009.
* Careers in Oceanography. Free leaflet describes the fields of oceanography, qualifications, preparation to become an oceanographer, and employment outlook from Oregon State University, School of Oceanography, Corvallis, OR 97331.
* Careers in the Marine Sciences/ Carreras en las Ciencias Marinas by Marie Beatriz Riesco. PRU-E-16. University of Puerto Rico Sea Grant Program, Publications, Department of Marine Sciences, University of Puerto Rico, Mayaguez, PR 00708. A free guide for those considering a career in the marine sciences; question and answer format.
* Careers in Marine Science. Available free from the National Aquarium in Baltimore, Department of Education and Interpretation, Pier 3, 501 East Pratt St., Baltimore, MD 21202-3194.
* Career Kit. Information on marine biology careers; includes suggested college courses and schools can be found at www.swbg-estore.com. A catalog of educational products such as career-related videos and books can be requested by writing to SeaWorld Florida, Education Department, 7007 Sea World Drive, Orlando, FL 32821-8097.
* Earth Work, Vol. 2, No. 6, pp. 4-10, 1992. " The new era of oceanographic careers," by J. Twiss, Jr.
* Geology Science & Profession. Single copy free. U.S. Department of the Interior, Geological Survey, Geologic Inquiries Group, Reston, Virginia 22092. Describes the work of a marine geologist.
* Marine Career Series: Marine-Related Occupations. A Primer for High School Students. Marine Memo. 41. Rhode Island Sea Grant, Publications Unit, Univ. of Rhode Island/Bay Campus, Narragansett, RI 02882. Refer to RIU-E-90-001.
* Marine Careers, an 18 minute video presentation that describes career opportunities in marine-related professions. Introduces viewers to skills, training requirements, outlook, and salary range in variety of marine-related jobs. Sells for $15.00; inquire for rental arrangement. Make checks payable to the University of Delaware and mail request to University of Delaware Sea Grant, Marine Communications Office, 263 E. Main St., Newark, DE 19716. Tel. (302) 831-8083. Refer to: DELU-F-93-001.
* Marine Careers Resources. Free leaflet. Sea World Education Department, 1720 South Shores Road, San Diego, CA 92109-7995.
* Marine-related Careers. 2 pp, free. 1988. OHSU-FS-)12. Ohio Sea Grant, Ohio State University, 1314 Kinnear Rd., Columbus, OH 43212. Listing of references on world of work in the water.
* Marine Careers: The Oceanographer. Free leaflet by William R. Hall. 1991. Describes 5 kinds of oceanographers and lists sources of marine careers materials. University of Delaware Sea Grant, Marine Communications Office,263 E. Main St., Newark, DE 19716.
* Marine Careers: The Scientist. Free leaflet by William R. Hall and Elizabeth A. Chajes. 1993. Describes the specializations in marine careers and how to become a marine scientist. Lists additional sources of information. Write to University of Delaware Sea Grant, Marine Communications Office, 263 E. Main St., Newark, DE 19716. Refer to DELU-G-93-001.
* Marine Education. Bibliography of educational materials available from the Sea Grant College Programs that includes listing all Sea Grant programs in marine science, internships and educational opportunities. Available from Sea Grant Marine Education Bibliography, Gulf Coast Research Laboratory, J.L. Scott Marine Education Center and Aquarium, P.O. Box 7000, Ocean Springs, MS 39564-7000
* Ocean Opportunities. 1986. 30 page booklet, $3.00. Write to Marine Technology Society, 1825 K St., N.W., Suite 218, Washington, DC 20006. Describes the various subfields in oceanography (biological,chemical, geological, etc.)with a listing of colleges and universities offering degrees in the science.
* Oceanographic Institutions: Science Studies the Sea, by Peter Limburg. l979. Elsevier Nelson, NY. Profiles several oceanographic institutions, summarizes U.S. marine research and oceanographic study in foreign countries; provides general information on careers. Available at public and university libraries.
* Oceanus. 1990, Vol. 33, No. 3, 80 pp. "Marine Education" issue includes graduate and undergraduate marine programs, Sea Grant's role, and practical learning experiences. Woods Hole Oceanographic Institution, 9 Maury Lane, Woods Hole, MA 02543.
* Opportunities in Marine and Maritime Careers by William Ray Heitzmann. l988. 2nd ed. Available from VGM Career Horizons, National Textbook Company, 8259 Niles Center Rd., Skokie, IL 60077. Covers wide range of jobs: undersea diving, maritime transportation, oceanography and marine sciences, information on salaries, education, and tips on how to get started.
* Preparing for a Career in Oceanography. 8 page brochure. Single copy free from Scripps Institution of Oceanography, A-033, University of California, San Diego, La Jolla, CA 92093. Describes multidisciplinary aspects of oceanography, undergraduate and graduate preparation, and curricular programs at Scripps with selected facilities.
* Questions About Careers in Oceanography. 18 pages. Single copy free. TAMU-SG-87-401. Appropriate for grades 7-12. Write to Marine Information Service, Sea Grant College Program, Texas A&M University, College Station, TX 77843-4115.
* Scientific Marine Careers. E-1355. 30 cents per copy. Also Professional Marine Careers, E-1356, and Technical Marine Careers E-1357. Michigan Sea Grant Extension, MSU Bulletin Office, P.O. Box 6640, East Lansing, MI 48826-6640. Describes work of marine biologists, environmental scientists, fisheries technicians, geological oceanographers, marine bacteriologists, marine ecologists and many other occupations that touch on the marine sciences.
* Sea Technology Buyer's Guide/Directory 1987-88. Section F, pp. F1-F16. Lists U.S. and adjacent institutions of higher learning with programs in oceanography, ocean engineering, and marine technology; describes programs, facilities available, and degree offered with a contact for further information. Copies of the Guide/Directory can be ordered for $19.50 plus $1.50 postage from Compass Publication, Inc., Suite 1000, 1117 North 19th St., Arlington, VA 22209.
* So You Want to Be a Marine Scientist. $1.00. Seaquarium Science Series, No. 2. Miami Seaquarium, 4400 Rickenbacker Causeway, Virginia Key, Fl 33l49.
* Summer Opportunities in Marine and Environmental Science: a compilation of jobs, internships, study, camp & travel programs for high school and college students by Joy A. Herrioff and Betty G. Herrin. 1985. White Pond Press, Londonderry, New Hampshire. 46 pp.
* Training and Careers in Marine Science. Paperback booklet, 11 pp., free to members, $5.00 non-members. International Oceanographic Foundation, 4600 Rickenbacker Causeway, Miami, FL 33l49. Describes branches and specialties of marine science, preparation needed, job prospects, compensation, useful hints to students, and a reading list.
* University Curricula in the Marine Sciences and Related Fields. 1981/82. Single copy, no charge. Public Affairs Office, Naval Oceanographic Office Bay St.Louis, NSTL, Mississippi 39522-5000.
* University Curricula in Oceanography and Related Fields. 1989-91. $5.00. Marine Technology Society, 1825 K St.,N.W., Suite 218, Washington, DC 20006. A guide to various universities with programs in oceanography and the marine sciences.
* Vocational-Technical Marine Career Opportunities in Texas. l980. Single copy free. No. TAMU-SG-80-402. Sea Grant Program, Texas A&M Univ., College Station, TX 77843.For high school counselors, teachers, and students.
* What is Oceanography. Free Fact Sheet, P915, from the Information Office, Rhode Island Sea Grant, University of Rhode Island Bay Campus, Narragansett, RI 02882-1197.

Return to the List

ADDITIONAL SOURCES FOR CAREER INFORMATION

* A Guide to Career in Science Writing. booklet , 10 pages. National Association of Science Writers, Inc., P.O. Box 294, Greenlawn, NY 11740.
* Career Briefs- Summaries- Job Guides. New list published each September by Careers, Inc., P.O. Box 135, Largo, Fl. 34649-0135. Write for list of titles and prices.
* Career Opportunities News. Write to Garrett Park Press, Garrett Park, Maryland 20896 for sample newsletter and subscription fees. Articles on current outlook on various occupations; featured careers; reports and new books on various careers.
* Encyclopedia of Careers and Vocational Guidance. William E. Hopke, editor. 1987. 7th edition, 3 Vols. J.G.Ferguson Pub.Co., Chicago. A major reference.
* Peterson's Annual Guide to Undergraduate Study, Four Year Colleges. 1993. Princeton, NJ: Peterson's Guides, Inc.
* Peterson's Guide to Graduate Programs in the Biological and Agricultural Sciences, BK. 3, 25th ed. 1993. Princeton, NJ: Peterson's Guides, INc.
* Women in the Sciences. LC Science Tracer Bullet TB83-8.Free Bibliography from Science and Technology Division, Library of Congress,l0 First St. SE, Washington, DC 20540
* Woods Hole Oceanographic Institution, Public Affairs, Woods Hole, Massachusetts 02543.Information Center-L, P.O. Box 100, Pueblo, CO 81002

Return to the List

Prepared by the Department of Systematic Biology, Vertebrate Zoology Section,
National Museum of Natural History, in cooperation with the
Public Inquiry Mail Service, Smithsonian Institution

NOTE: This publication can be made available in Braille or audio cassette. To obtain a copy in one of these formats, please call or write :

Smithsonian Information
Smithsonian Institution
PO Box 37012
SI Building, Room 153, MRC 010
Washington, DC 20013-7012
202-633-1000 (voice); 202-357-1729 (TTY)
info@si.edu
(Please provide postal address.)


Please help us spread the word about BiologyJobs.com by telling any organization you know that hires employees with a background in biology that they can advertise their open positions online at BiologyJobs.com for only $1 per day with unlimited job postings and resume database access plus their organization's profile and logo featured online. You can't beat the affordable advertising rates of Biology Jobs .com combined with the highly tartgeted traffic that your job postings will recieve compared to other online job board services.

Whether you are working on your degree, or your have completed your B.A. (bachelor of arts) B.S. ( bachelor of science ) M.S.( master of science ), M.S. ( master of arts ),or Ph.D ( doctorate of philosophy ) degree , Biology Jobs .com has job openings posted online at various times for all levels of Biology Jobs from volunteer positions to tenured professors, positions with top biotechnology companies and everything in between.


FEEDBACK PRIVACY

Copyright 2004 Biology Jobs .com, Your Life Science Careers Site ....

Minggu, 04 Juli 2010

Bioteknologi di Indonesia

Bioteknologi di Indonesia: Kondisi dan Peluang
Oleh : Arief Budi Witarto
Source: io.ppi-jepang.org Email : redaksi@io.ppi-jepang.org

Kemajuan bioteknologi di dunia sangat pesat sehingga dipercaya sebagai gelombang baru ekonomi dunia setelah teknologi informasi. Bioteknologi modern lahir tahun 1970 dan mengalami revolusi karena perubahan paradigma pemanfaatan materi hayati dari tingkat seluler ke tingkat molekuler. Perkembangan mulai dari rekayasa genetika, rekayasa protein sampai rekayasa jaringan semua didasari oleh teknologi yang berdasar pada pengetahuan biologi molekuler tadi. Indonesia memulai pengembangan bioteknologi tahun 1985 dan terus berkembang sampai sekarang dengan penguasaan utama bidang pertanian. Dengan semakin banyaknya sektor industri di Indonesia yang ikut masuk ke bioteknologi selain yang sudah ada yaitu pertanian dan ditambah sekarang dengan farmasi, kosmetika dan pangan, maka peluang bioteknologi di Indonesia semakin besar di masa datang. Penyediaan SDM bioteknologi Indonesia menjadi lebih penting dirasakan oleh karena itu.
1. Pendahuluan Bioteknologi, sering didengar tapi mungkin jarang dirasakan manfaatnya di Indonesia. Bila pun pernah diketahui, produk bioteknologi modern seperti kapas transgenik tahan hama yang ditanam secara terbatas di Sulawesi Selatan beberapa tahun lalu, justru mendatangkan protes akan keselamatan lingkungannya oleh sebagian masyarakat. Sementara berita yang didengar di luar negeri, bioteknologi adalah teknologi masa depan [1]. Gelombang kedua ekonomi dunia setelah teknologi informasi. Bagaimana bisa? 2. Memahami Bioteknologi Bioteknologi adalah ilmu tua yang menjadi muda berkat sebuah revolusi ilmu pengetahuan. Sudah sejak 8000 tahun yang lalu, bangsa Mesir kuno menggunakan sejenis mikroba yeast Saccharomyces atau ragi untuk pembuatan roti dan minuman anggur [2]. Ragi itu merubah gula dalam cairan anggur menjadi alkohol. Dalam adonan roti, gelembung gas yang dihasilkan dalam proses fermentasi, membuat roti jadi empuk sehingga enak dimakan. Penggunaan mikroba lainnya dikenal dalam pembuatan keju seperti jenis Roquefort, Gorgonzala, Brie dan yang mungkin lebih terkenal, jenis Camembert di pusat pembuatan keju dunia yaitu Swiss. Di sini mikroba mold Penicillum roqueforti atau kapang berperan merubah komposisi susu menjadi berbagai aroma dan warna. Lebih dekat kepada kita, nenek moyang bangsa Indonesia telah menggunakan kapang yang lain yaitu Rhizopus untuk membuat tempe dari kedelai. Semua ini adalah penggunaan mikroba atau mikroorganisme pada tingkat sel untuk tujuan pangan. Sehingga ilmu tua bioteknologi adalah penggunaan jasad renik atau makhluk hidup secara umum pada tingkat sel atau disebut seluler [3]. Bioteknologi modern lahir pada tahun 1970-an dengan munculnya teknologi DNA rekombinan. Istilah DNA rekombinan mungkin sudah pernah didengar tapi samar-samar maknanya. Ilmuwan dari Universitas Kalifornia di San Fransisco (UCSF) bernama Herbert Boyer berhasil mengembangkan teknologi canggih untuk dapat memotong rantai DNA lalu menyambungnya lagi. Tetapi karena materi DNA berukuran sangat kecil, hal ini tidak dapat dibuktikan dengan melihat langsung karena jumlahnya juga sangat sedikit. Masih dari daerah yang sama yaitu propinsi Kalifornia-AS, seorang ilmuwan lain dari Universitas Stanford bernama Stanley Cohen menemukan cara bagaimana memasukkan materi DNA berbentuk
lingkaran atau plasmid ke dalam sel. Walau tinggal berjarak hanya 60 km saja, keduanya tidak pernah bisa bertemu sehingga dapat menyatukan teknologi yang dimilikinya itu. Sampai akhirnya pada tahun 1972, keduanya bertemu di sebuah pertemuan ilmiah, ribuan kilometer dari tempat mereka tinggal dan bekerja di Kalifornia, yaitu di Hawaii. DNA yang sudah disambung lagi dengan teknologi Boyer dapat diperbanyak dengan memasukkan ke dalam sel bakteri dengan teknologi Cohen. Karena bakteri berkembang biak sangat cepat, DNA yang telah dimasukkan pun jadi banyak dalam waktu singkat, sehingga dapat dicek keberadaannya dengan mudah [4]. Inilah inti dari teknologi DNA rekombinan. Teknologi saja tidak bermakna ekonomi tanpa ada satu kegunaan. Biasanya bukan ilmuwan yang punya gagasan ekonomi tapi usahawan [5]. Untungnya seorang pebisnis yang juga tinggal di Kalifornia bernama Robert Swanson mendengar keberhasilan dua ilmuwan itu yang tidak pernah dipublikasikan di koran tapi hanya di jurnal ilmiah saja dan melihat peluang bisnis yang besar. Peluang bisnis apa sebenarnya yang ada? Insulin adalah hormon berbentuk protein yang sangat dibutuhkan manusia untuk mengatur kadar gula/glukosa dalam darah. Sistem pengaturan yang rusak, menyebabkan manusia menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM). Penderita DM harus secara rutin menyuntikkan insulin ke dalam tubuhnya karena sudah tidak bisa memproduksi sendiri. Dari mana datangnya insulin itu? Dari pankreas sapi. Untuk itu perusahaan farmasi dunia selama ini harus mengumpulkan ribuan sapi hanya untuk mendapatkan sekian mg insulin bagi penderita DM. Karena insulin adalah protein dan protein dibuat dengan informasi dari DNA, maka pengusaha Swanson melihat kemungkinan membuat insulin rekombinan dengan bakteri yang telah direkayasa genetika menggunakan teknologi temuan Cohen dan Boyer itu. Maka lahirlah pada tahun 1976, masih juga di Kalifornia, perusahaan bioteknologi modern pertama di dunia yaitu Genentech (singkatan dari Genetich Engineering Technology) yang memproduksi protein-protein rekombinan seperti insulin, hormon pertumbuhan, dll [6]. DNA dan protein yang kita dengar di atas adalah dua dari empat molekul biologi penyusun sel. Dua lainnya adalah karbohidrat dengan contoh yang sudah disebutkan adalah glukosa, selain itu juga sukrosa yang menjadi komponen utama gula manis dan satu lagi adalah lipid atau minyak. Pengunaan molekul-molekul biologi itu, bahkan sampai kepada kemampuan memanipulasi atau merekayasa adalah revolusi teknologi yang menyebabkan lahirnya bioteknologi modern. Jadi ada perubahaan dalam bioteknologi tua menjadi bioteknologi modern yaitu perubahan penggunaan materi hayati dari tingkat sel atau seluler ke tingkat molekul atau molekuler. Teknologi DNA rekombinan bukanlah satu-satunya tetapi memang adalah tonggak utama dari lahirnya bioteknologi modern. Beberapa tonggak penting lainnya dimulai dari penemuan fenomena pewarisan sifat oleh Gregor Mendel (tahun 1866), keyakinan bahwa materi genetik adalah DNA oleh Oswald Avery (1944), dugaan struktur double helix DNA oleh Watson dan Crick (1953), penemuan mRNA oleh Monod dan Jacob (1961), pengungkapan kode genetik oleh Khorana dan Nirernberg (1966), inovasi teknologi hibridoma oleh Milstein dan Kohler (1974), pengembangan teknologi pembacaan sekuen DNA oleh Maxam dan Gilbert (1977) sampai penemuan teknologi penggandaan DNA, PCR oleh Karry Mullis (1983). Semua ini biasanya tercakup dalam kuliah biologi molekuler yang memang menjadi fondasi dari bioteknologi modern [7]. 3. Perkembangan Bioteknologi Perkembangan bioteknologi setelah lebih dari 30 tahun diawali dengan teknologi rekayasa
genetika ini menjadi semakin cepat. Dalam dogma sentral atau pemahaman dasar ilmu biologi diketahui bahwa cetak biru kehidupan DNA menyimpan informasi yang pemanfaatannya dilakukan melalui perubahan informasi itu ke materi baru yaitu RNA. Proses ini disebut transformasi. Selanjutnya RNA juga dirubah informasinya ke dalam materi akhir yaitu protein dalam proses translasi. Dari alur informasi dalam dogma sentral itu bisa dipahami bahwa rekayasa DNA/genetika membawa implikasi pada perubahan RNA sebagai materi pertengahan maupun kepada protein sebagai produk akhir. Hanya sepuluh tahun dari lahirnya rekayasa genetika/teknologi DNA rekombinan, lahirlah teknologi baru dalam kancah bioteknologi yaitu rekayasa protein [8]. Rekayasa protein saat ini menjadi andalah bioteknologi modern karena produk-produk bioteknologi yang beredar luas di masyarakat umumnya berbentuk protein seperti obat-obat dari jenis hormon, antibodi sampai alat-alat diagnosa penyakit untuk aplikasi kedokteran/kesehatan maupun untuk aplikasi pangan seperti protein BMP/bone morphological protein dalam susu bubuk bahkan ke kosmetika seperti collagen dalam shampoo dan protease dalam pasta gigi. Penemuan bahwa RNA juga dapat memiliki aktivitas enzimatik seperti enzim yaitu ribozyme melahirkan teknologi baru dalam bioteknologi yaitu rekayasa RNA. Walaupun belum semaju teknologi rekayasa genetika dan rekayasa protein karena materi RNA umumnya mudah hancur dan berumur pendek, perkembangan teknologi rekayasa RNA semakin jadi perhatian. Misalnya penggunaan teknologi RNA interference untuk mematikan fungsi gen tertentu terbukti lebih efektif daripada pematian gen pada tingkat DNA menggunakan teknologi knock-out gen misalnya. Yang lebih menghebohkan sekarang adalah lahirnya teknologi kloning. Teknologi kloning dapat dibagi menjadi dua yaitu teknologi kloning terapi dan teknologi kloning reproduksi [9]. Teknologi kloning terapi yang legal dan didukung semua negara karena manfaatnya untuk membuat jaringan dan organ sebagai ganti dalam pencangkokan jaringan atau organ yang rusak. Sementara teknologi kloning reproduksi ditentang dunia termasuk PBB karena bertujuan membuat individu baru serupa yang berakibat sosial luas. Teknologi kloning terapi semakin menjadi kenyataan setelah ilmuwan Korea Selatan baru-baru ini berhasil membuat sel syaraf, sel pembuluh darah dan sel kulit yang dapat menggantikan sel-sel rusak seperti pada penderita Parkinson contohnya Muhammad Ali petinju dan Michael J. Fox artis film Back to the Future yang sel syaraf otaknya mati sehingga menjadi pikun dan tidak dapat beraktifitas normal [10]. Untuk kedepannya, sel-sel itu perlu dibentuk menjadi jaringan atau kumpulan sel dengan fungsi sama seperti jaringan kulit, jaringan tulang rawan dll. Cangkok jaringan ini yang sebenarnya lebih banyak diperlukan karena umumnya bagian tubuh yang berada di luar, lebih peka terhadap penolakan dalam pencangkokan. Misalnya penderita luka bakar hanya dapat menerima kulit dari tubuhnya sendiri tidak dapat dari donor lain. Rekayasa jaringan adalah teknologi dalam bioteknologi yang dimulai tahun 1987 oleh ilmuwan MIT yaitu Langer dan Vacanti untuk membuat jaringan-jaringan baru dengan tujuan transplantasi/pencangkokan [6]. Menggunakan polimer biodegradable dalam media pembiakkan khusus, dibuat cetakan yang mirip dengan jaringan baru yang akan dibentuk. Selanjutnya ditanamkan ke dalam cetakan itu sel-sel yang menjadi tunas lalu dibiakkan sampai menjadi jaringan yang sempurna. Menggunakan teknologi rekayasa jaringan, jaringan manusia yang paling rumit yaitu jaringan tulang rawan pembentuk telinga telah berhasil dibuat dan ditanamkan di atas punggung tikus telanjang/nude mouse yang telah dimatikan sistem kekebalannya. Telinga tersebut sama sekali tidak ditolak oleh tubuh tikus dan menempel dengan sempurna. Inilah kemenangan teknologi jaringan yang banyak dinanti pasien transplantasi, bukan untuk menyakiti hewan.
4. Perkembangan Bioteknologi sebagai Ilmu di Indonesia Kurang lebih 15 tahun yaitu tahun 1985, pemerintah Indonesia telah menjadikan bioteknologi sebagai prioritas pengembangan iptek yang dilakukan oleh Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi (RISTEK) [11]. Selanjutnya sejak tahun 1988, bioteknologi sudah masuk dalam REPELITA juga sebagai prioritas pembangunan khususnya bidang iptek. Perkembangan terbaru dari sisi kebijakan/aturan pemerintah yaitu pada tahun 2000 lalu, bioteknologi juga muncul sebagai bidang prioritas dalam Jakstra Ipteknas yang dilanjutkan dengan Renstra Ipteknas. Dalam implementasi/penerapan dari kebijakan itu, pada tahun 1990 mulai dipikirkan pembentukan SDM bioteknologi yaitu dengan pembentukan PAU atau Pusat Antar Universitas bidang bioteknologi di UGM bidang bioteknologi kedokteran, ITB bidang bioteknologi industri dan IPB bidang bioteknologi pertanian. Kerjasama antar lembaga pendidikan dan penelitian pemerintah juga mulai digesa dengan penunjukan pusat pengembangan atau center of excellence dengan tiga bidang utama yaitu bioteknologi pertanian dengan anggota PAU Bioteknologi IPB, Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, bioteknologi kedokteran dengan anggota UI/Lembaga Biologi Molekul Eijkman dengan PAU Bioteknologi UGM dan bioteknologi industri dengan anggota PAU Bioteknologi ITB dan BPPT. PAU-PAU di universitas juga ditugaskan untuk mencetak SDM bioteknologi dengan pembentukan program studi pasca sarjana S-2 dan S-3 bioteknologi. Riset tanpa dana, menjadi tak bermakna. Maka sejak tahun 1992 dana riset kompetitif terbesar di Indonesia yaitu RUT/Riset Unggulan Terpadu yang dikoordinasi oleh RISTEK dan diemban pelaksanaan administrasinya oleh LIPI, memasukkan bioteknologi sebagai salah satu program tersendiri yang dibiayai. Selain RUT ada pula skema dana kompetitif serupa yaitu RUTI/untuk tingkat internasional dan RUK/kemitraaan untuk kerjasama lembaga riset dengan swasta. Usaha-usaha antara pemerintah menggandeng swasta ini membuahkan hasil antara lain berdirinya Konsorsium Bioteknologi Indonesia/KBI dengan anggota lembaga pemerintah, penelitian, pendidikan dan swasta industri farmasi dan pangan khususnya. Selain beberapa lembaga yang telah disebut di atas, lembaga pemerintah yang aktif mengembangkan bioteknologi lainnya adalah departemen teknis yaitu Departemen Pertanian lewat Badan Penelitian dan Pengembangannya seperti Badan Litbang Bioteknologi Pertanian dan Sumber Daya Genetik Pertanian (Balitbiogen) yang berkantor di Bogor. Himpunan bioteknologi juga mulai bermunculan baik yang formal atau non-formal misalnya Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia, Jaringan Peneliti Bioteknologi Indonesia, dsb. Tak kurang pula jurnal-jurnal baik yang spesifik maupun yang lebih luas seperti Indonesian Journal of Biotechnology yang berkantor di PAU Bioteknologi-UGM, sekarang berganti nama menjadi Pusat Studi Bioteknologi-UGM, dsb. Upaya terakhir pemerintah untuk mendorong kemajuan bioteknologi Indonesia adalah rencana pembentukan lokasi khusus di pulau Rempang, berdekatang dengan pulau Batam, sebagai wilayah khusus pengembangan dan komersialiasasi bioteknologi farmasi dan pertanian [12,13]. Usaha ini dikenal dengan istilah bio-island. 5. Perkembangan Bioteknologi Industri/Bioindustri di Indonesia Apabila perkembangan bioteknologi secara keilmuwan di Indonesia kuat khususnya di bidang pertanian, perkembangan industri/bioindustri Indonesia justru sebaliknya. Seperti contoh di pendahuluan, bioteknologi pertanian dengan pemanfaatan tanaman transgenik oleh perusahaan seperti Monsanto/Monagro Kimia, banyak mendapat tantangan. Sehingga
pemanfaatan bioteknologi pertanian kita masih bersandar pada bioteknologi tingkat tua yaitu pemanfaatan pada tingkat seluler bukan molekuler. Contohnya adalah industri kultur jaringan yang berkembang baik dalam industri kehutanan dengan kebutuhan penyediaan bibit tanaman untuk reboisasi maupun untuk estetika seperti bunga-buga untuk pajangan seperti anggrek, dsb. Kultur jaringan adalah pembuatan bibit dan perbanyakannya menggunakan permainan komposisi media. Yang digunakan bisa segala sumber organ tumbuhan mulai dari biji, daun, tunas, dsb jadi lebih luas dari teknologi pembibitan konvensial dengan stek. Yang dimanipulasi adalah sel penyusun organ itu untuk berubah menjadi tanaman sempurna melalui hormon-hormon dalam media yang digunakan. Jadi ini adalah bioteknologi tingkat tua, bukan bioteknologi modern. Bioteknologi pangan, cukup berkembang dengan baik walau belum tereksploitasi secara optimal. Misalnya komposisi kecap yang membedakan rasa, warna dan bau/flavor sangat dipengaruhi oleh jenis kedelai sebagai bahan baku dan juga mikroba yang digunakan. Sementara ini semua masih dilakukan secara tradisional walau secara penelitian sudah ada yang mulai mengarah pada pemanfaatan flavor-nya. Demikian pula berbagai buah dan produk pertanian untuk pangan baik sebagai perasa seperti vanili maupun pewarna dan bau yang banyak dieksploitasi oleh industri flavor Eropa dan Amerika di Indonesia, juga makin merasakan pentingnya bioteknologi modern. Selain flavor, kebutuhan yang besar adalah enzim dan protein yang banyak digunakan dalam proses pembuatan produk pangan seperti enzim protease, enzim lipase, dsb. Tak terkecuali dengan pemanfaatan baru di kosmetik dan kebersihan seperti munculnya pasta gigi yang mengurangi detergen dengan mengganti protease, shampoo dengan komposisi protein collagen, dll. Sektor industri yang semakin besar cakupan penggunaan bioteknologinya di Indonesia adalah industri farmasi. Mungkin hal ini tidak terlalu didengar karena sebagian besar komponen industri farmasi masih impor dan produk-produk obat untuk bioteknologi masih dinikmati oleh kalangan berpunya di kota besar saja. Obat-obat untuk pengobatan dan pendukung terapi kanker misalnya, seperti hormon eritropoietin, hormon growth colony, stimulting factor, antibodi spesifik, dsb adalah contoh-contoh obat yang sekali suntik sekian juta rupiah harganya. Kalau obat resep seperti disebutkan, tidak pernah diiklankan di media massa, tapi alat kedokteran untuk diagnosa bisa diamati. Misalnya alat diagnosa penyakit DM yang harus mengukur kadar gula darahnya secara teratur menggunakan alat pengukur gula darah, sudah mulai diiklankan di media massa cetak nasional sejak beberapa tahun terakhir [14]. Komponen utama dalam perangkat elektronik ini adalah enzim yang mengubah molekul glukosa menjadi sinyal elektronik. Perusahaan farmasi nasional baik yang BUMN seperti PT Kimia Farma, Tbk dan PT Kalbe Farma juga mulai melirik kebutuhan produk obat bioteknologi. PT Kimia Farma menggandeng LIPI dan lembaga riset Jerman, Fraunhofer untuk mengembangkan teknologi produksi obat-obat berbasis protein yang labih murah dengan teknologi molecular farming [15]. PT Kalbe Farma menggandeng lembaga riset Kuba dan Eropa dengan membentuk anak perusahaan bernama Innogen yang berkantor di Singapura. 6. Prospek dan Tantangan Dengan uraian di atas, prospek perkembangan bioteknologi di Indonesia terlihat semakin jelas. Pertama, untuk pendidikan S-1, bioteknologi tidak harus berarti memiliki pengalaman eksperimen rekayasa genetika. Karena fondasi bioteknologi adalah pemanfaatan molekul biologi baik DNA, protein, dst. Maka pengalaman eksperimen biokimia mulai dari isolasi
protein/enzim dan karakterisasinya juga penting. Termasuk juga tingkatan bioteknologi tua seperti pemanfaatan sel untuk bioreaktor, kultur jaringan dsb juga penting. Pengalaman di tingkat S-1 bisa ditingkatkan dengan ke tingkat S-2 dan S-3 untuk penguasaan materi bioteknologi yang lebih dalam dan luas. Penelitian bioteknologi bisa dilakukan pada umumnya di lembaga penelitian Indonesia sendiri yang sudah mengarah ke bioteknologi modern seperti LIPI, Eijkman, Balitbiogen, dan sebagainya. Dengan mulai masuknya industri farmasi ke ranah bioteknologi, maka peluang memasuki lapangan kerja dengan keahlian bioteknologi semakin besar selain yang sudah ada selama ini untuk industri pangan dan pertanian. Termasuk yang baru adalah industri kosmetika yang juga maju pesat. Lembaga pemerintah terkait produk obat dan pangan yaitu Badan POM dalam penerimaan pegawai tahun 2005 juga mulai mencari alumni bioteknologi yang menunjukkan semakin banyaknya produk obat, termasuk vaksin dan pangan yang berbasis bioteknologi. Tantangan terbesar adalah penyediaan SDM terampil dan berwawasan bioteknologi luas. Umumnya bioteknologi di Indonesia berlandaskan bidang keilmuwan pertanian atau ilmu alam baik biologi atau kimia. Sedikit seperti di UI ada yang berbasis kedokteran. Di luar negeri, negara maju seperti Jepang, bioteknologi bisa saja berbasis keteknikan. Bahkan negara berkembang sekalipun seperti Malaysia, beberapa universitasnya juga memiliki departemen bioteknologi berbasis pertanian dan teknik sekaligus. Semakin besarnya kebutuhan di Indonesia belum diikuti dengan penyediaan SDM bioteknologi yang mumpuni tersebut. Saat ini tidak dipungkiri, para ilmuwan peneliti dan doktor bioteknologi Indonesia masih sebagian besar almuni LN. Jadi merupakan tantangan besar melahirkan SDM produk DN yang lebih tahu kondisi dan permasalah lokal Daftar Pustaka
1. Arief B. Witarto. 2005. Bioteknologi, sebuah gelombang ekonomi baru. Harian Bisnis Indonesia, 14 Juni 2005.
2. Informasi dari Microsoft Encarta versi 2004
3. Arief B. Witarto. 2005. Pengantar bioteknologi. Ceramah undangan di Fakultas Peternakan-UGM, Yogyakarta, 5 Februari 2005.
4. Arief B. Witarto. 2004. Bioteknologi siapa takut? Ceramah undangan di SMA Negeri 1 Depok, Depok, 20 Februari 2004.
5. Arief B. Witarto. 2004. Mengenal lebih jauh bioteknologi. Ceramah undangan di Pelatihan Bioteknologi untuk Profesi Kedokteran di RS Kanker Dharmais, Jakarta, 27 September 2004.
6. Arief B. Witarto. 2003. Bioteknologi kedokteran: Dari rekayasa genetika sampai rekayasa jaringan. Ceramah undangan di Seminar Kesehatan dan Kloning di Fakultas Kesehatan Masyarakat-UI, Depok, 14 Juni 2003.
7. Arief B. Witarto. 2004. Rekayasa genetika. Materi kuliah pasca sarjana S-2 Kimia peminatan bioteknologi di Jurusan Kimia, FMIPA-UI, Depok, semester ganjil 2004
8. Arief B. Witarto. 2003. Bermain dengan protein. Harian Kompas, 21 November 2003.
9. Arief B. Witarto. 2002. Kloning anak manusia dan bisnis. Harian Kompas, 21 April 2002.
10. Arief B. Witarto. 2005. Kloning terapi makin jadi kenyataan. Harian Kompas, 17 Juni 2005.
11. Arief B. Witarto. 2001. Current state of Indonesian biotechnology and its prospect in global market era. Ceramah undangan di 5th Symposium on Agricultural and Biochemical Engineering, University of Tokyo, Tokyo-Jepang, 11 Maret 2001.
12. Arief B. Witarto. 2003. Bio-island: Mengembangkan bioteknologi kenapa harus mengucilkan diri? Harian Suara Pembaruan, 31 Oktober 2003.
13. Arief B. Witarto. 2004. Menghidupkan bio-island. Portal Berita Iptek, 6 Desember 2004.
14. Arief B. Witarto. 2003. Membedah alat pengukur gula darah. Harian Kompas, 7 Oktober 2003.
15. Arief B. Witarto. 2003. Bertani protein. Harian Kompas, 14 April 2003.

www.dinastijaya.com

Powered By CMSimple.dk | Designed By DotcomWebdesign.com

Minggu, 25 April 2010

Keanekaragaman hayati

Keanekaragaman hayati untuk keberlanjutan kehidupan manusia

I. PENDAHULUAN
keanekaragaman hayati bersifat multidimensi. Hal ini digambarkan oleh beragamnya definisi/pengertian yang telah di kemukakan. Kesamaan diantara berbagai pengertian yang telah di kemukakan.

Kesamaan di antara berbagai pengertian keanekaragaman hayati adalah tiga komponen prinsip, yaitu ekosistem, jenis, dan gen. Tiga komponen prinsip ini juga diacu di dalam pengertian keanekaragaman hayati menurut konvensi keanekaragaman hayati.

Pengertian menurut konvensi ini adalah :

“Keanekaragaman hayati ialah keanekaragaman di dalam makhluk hidup dari semua sumber, termasuk diantaranya, daratan, lautan dan ekosistem perairan lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya; mencakup keanekaragaman di dalam jenis, antar jenis dan ekosistem”

Dalam pengertian lain; keanekaragaman hayati merujuk pada keanekaragaman semua jenis tumbuhan, hewan dan jasad renik (mikroorganisms), serta proses ekosistem dan ekologis dimana mereka menjadi bagiannya. Keanekaragaman genetik (didalam jenis) mencakup keseluruhan informasi genetik sebagai pembawa sifat keturunan dari semua makhluk hidup yang ada. Keanekaragaman jenis berkaitan dengan keragaman organisme atau jenis yang mempunyai ekspresi genetis tertentu. Sementara itu, keanekaragaman ekosistem merujuk pada keragaman habitat, yaitu tempat berbagai jenis makhluk hidup melangsungkan kehidupannya dan berinteraksi dengan faktor abiotik dan biotik lainnya. Keanekaragaman hayati lebih dari sekedar jumlah jenis-jenis flora dan fauna.

Kawasan hutan Indonesia dan ekosistem daratan lainnya mewadahi keanekaragaman hayati yang sangat besar. Dari segi keanekaragaman jenis, Indonesia mempunyai kekayaan jenis-jenis palem yang terbesar di dunia, lebih dari 400 jenis kayu dipterocarp (jenis kayu komersial terbesar di Asia Tenggara)
dan kurang lebih 25 ribu tumbuh-tumbuhan berbunga serta beranekaragam fauna. Indonesia menduduki tempat pertama didunia dalam kekayaan jenis mamalia (515 jenis, 36 % diantaranya endemik), menduduki tempat pertama juga dalam kekayaan jenis kupu-kupu swallowtail (121 jenis, 44 % di antaranya endemik), menduduki tempat ketiga dalam kekayaan jenis reptil (lebih dari 600 jenis), menduduki tempat keempat dalam kekayaan jenis burung (1519 jenis, 28 % diantaranya endemik), menduduki tempat kelima dalam kekayaan jenis amfibi (lebih dari 270 jenis) dan menduduki tempat ketujuh dalam kekayaan flora berbunga.

Kawasan peraiaran teritorial Indonesia yang luas dan kekayaan lautan Hindia dan pasifik barat lebih lanjut lagi menambah kekayaan keanekaragaman hayati. Indonesia mempunyai habitat pesisir dan lautan yang kaya. Sistem terumbu karang yang ekstensif di lautan yang jernih sekitar Sulawesi dan Maluku termasuk diantara ekosistem terumbu karang yang terkaya di dunia.

Sebagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia telah di manfaatkan dan memberikan nilai secara ekonomis. Sejumlah tanaman pertanian yang mempunyai nilai penting secara nasional maupun global berasal dari Indonesia, termasuk merica hitam, cengkih, tebu, beberapa jenis citrus dan sejumlah buah-buahan tropis lainnya. Lebih dari 6000 jenis tanaman dan hewan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan harian, baik di panen secara langsung dari alam maupun dibudidayakan. Tujuh ribu jenis ikan marine maupun air tawar adalah sumber protein utama masyarakat Indonesia. Pertanian dan perikanan adalah penopang perokonomian negara, yang menyediakan kebutuhan pangan, sandang, papan, obat-obatan dan enersi, serta peralatan.

Keanekargaman hayati Indonesia adalah sumber daya yang penting bagi pembangunan nasional. Sifatnya yang mampu memperbaiki diri merupakan keunggulan utama untuk dapat di manfaatkan secara berkelanjutan. Sejumlah besar sektor perekonomian nasional tergantung secara langsung ataupun tak langsung dengan keanekaragaman flora-fauna, ekosistem alami dan fungsi-fungsi lingkungan yang dihasilkannya. Konservasi keanekaragaman hayati, dengan demikian sangat penting dan menentukan bagi keberlanjutan sektor-sekrtor seperti kehutunan, pertanian, dan perikanan, kesehatan, ilmu pengetahuan, industri dan kepariwisataan, serta sektor-sektor lain yang terkait dengan sektor tersebut.

II. KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KESEJAHTERAAN MANUSIA

1. Interaksi Manusia dan Keanekaragaman Hayati

Manusia tergantung kepada keanekaragaman hayati untuk pangan, enersi, papan, obat-obatan, inspirasi dan banyak lagi kebutuhan lain. Keanekaragaman hayati dan manusia telah mempunyai keterkaitan yang erat dan saling mendukung selama puluhan ribu tahun. Sumber daya hayati untuk pemenuhan kebutuhan hidup mempunyai karakter penting yaitu bersifat “renewable”, paling tidak jika dikelola dengan bijaksana. Cara masyarakat memanfaatkan keanekaragaman hayati menentukan kelestarian sumber daya ini, dan cara masyarakat mengelolanya akan menentukan produktivitas sumber daya yang penting ini dan kelestarian fungsi-fungsi ekologisnya.

Kegiatan manusia telah membantu terciptanya keanekaragaman jenis dan plasma nutfah, dan telah meningkatkan komunitas hayati di dalam lingkungan yang tertentu melalui praktik pengelolaan sumber daya dan melalui domestikasi tumbuhan dan satwa. Disisi lain manusia juga telah menyebabkan menurunnya mutu keanekaragaman hayati beserta fungsi-fungsi ekologis yang di hasilkannya. Menurunnya mutu keanekaragaman hayati ini dapat dilihat dari laju kepunahan jenis dan viabilitas jenis-jenis yang masih bertahan.

Hubungan manusia dengan keanekaragaman hayati dapat di gambarkan dalam diagram siklus interaksi. Dari sudut pandang antroposentris, interaksi dimulai dari faktor-faktor pendorong hubungan yang ada di masyarakat, seperti untuk pemenuhan kebutuhan, inspirasi dan fungsi-fungsi ekologis sebagai pendukung kehidupan. Faktor pendorong ini akan mempengaruhi dampak kegiatan manusia pada keanekaragaman hayati. Meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan hidupnya akan meningkatkan dampak kegiatan manusia pada keanekaragaman hayati; dampak tersebut kemudian akan mempengaruhi kondisi dan dinamika keanekaragaman hayati, yang kemudian mempengaruhi nilai-nilai dan fungsi keanekaragaman hayati dan pada akhirnya akan mempengaruhi pula ketersediaan dan kualitas keanekaragaman hayati dalam memenuhi kebutuhan manusia dan juga dalam menjamin kelestariannya. Sementara itu, kondisi dan dinamika, nilai-nilai dan dampak kegiatan manusia pada keanekaragaman hayati dapat pula diupayakan melalui peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjadi faktor pendorong bagi berubahnya pola konsumsi efisiensi pemanfaatan sumber daya dan apresiasi masyarakat.

Peningkatan kesadaran dan apresiasi akan mempengaruhi pula dampak kegiatan manusia, kondisi dan dinamika dan cara penilaian fungsi-fungsi keanekaragaman hayati melalui upaya-upaya tertentu dalam pengelolaan pendidikan dan lain sebagainya.

2. Manfaat keanekaragaman Hayati bagi Manusia

Tumbuhan, hewan dan mikroorganisme penghuni “planit biru” ini, saling berinteraksi didalam lingkungan fisik suatu ekosistem, merupakan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan. Sumber daya hayati dari kekayaan kehidupan ini mendukung kehidupan manusia dan memperkaya aspirasi serta memungkinkan manusia untuk beradaptasi dengan peningkatan kebutuhan hidupnya serta perubahan lingkunganya. Erosi keanekaragaman plasmanutfah, jenis, dan ekosistem yang berlangsung secara tetap akan menghambat kemajuan dalam proses masyarkat yang sejahtera secara berkelanjutan. Erosi keanekargaman hayati ini merupakan indikasi dari ketidakseimbangan antara peningkatan kebutuhan manusia dan kapasitas alam.

Pada saat manusia memasuki revolusi industri, ada kurang lebih 850 juta jenis flora-fauna yang bersama-sama menghuni bumi. Pada saat ini, dengan populasi manusia sekitar enam kali, dan dengan tingkat konsumsi sumber daya yang berlipat jauh lebih besar, peningkatan kapasitas alam melalui upaya budi daya dan pengelolaan sumber daya tidak mampu mengikuti peningkatan pertumbuhan populasi dan kebutuhan hidupnya.

Dari komponen-komponen keanekaragaman hayati, baik diperoleh langsung dari alam maupun melalui budi-daya, umat manusia memperoleh semua bahan pangan dan sejumlah besar obat-obatan, serat bahan baku industi. Sumbangan perekonomian dari pemanenan komponen keanekaragaman hayati dari alam saja telah mennyumbang empat setengah persen GDP Amerika, atau bernilai 87 milyar dollar pada akhir tahun 1970. Perikanan lepas pantai, yang berasal dari jenis-jenis non budi daya telah menyumbang sekitar 100 juta ton bahan pangan. Pada beberapa negara berkembang masyarakat masih mencari bahan kebutuhan pangan pokok mereka dari alam. Umbi-umbian, dan sagu di Irian jaya, dan beberapa sumber karbohidrat utama di beberapa negara masih diperoleh langsung dari alam .

Nilai komponen keanekaragaman hayati yang dibudidayakan jauh lebih besar lagi. Pertanian menyumbang sekitar 32 persen dari GDP negara-negara berkembang. Perdagangan produk pertanian pada tahun 1989 mencapai 3 triliyun dolar. Komponen keanekaragaman hayati juga penting bagi kesehatan manusia. Sebelum industri sintesa muncul, semua bahan obat-obatan diperoleh dari alam, dan bahkan sekarang bahan-bahan alami ini masih vital. Obat-obatan tradisional mendukung pemeliharaan kesehatan bagi sekitar 80 % penduduk negara berkembang, atau lebih dari tiga milyar jiwa secara keseluruhan. Pengobatan tradisional saat ini di dorong perkembangannya oleh Badan Kesehatan Dunia WHO, dan juga di banyak negara,termasuk negara maju.

Demikian juga untuk pengobatan modern, seperempat dari resep obat-obatan yang di berikan Amerika Serikat mengandung bahan aktif yang diekstraksi dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan lebih dari 3000 antibiotik, termasuk penisilin dan tetrasiklin, diperoleh dari mikroorganisma. Siklosporin, di kembangkan dari suatu kapang tanah, merupakan penemuan revolusioner bagi transplantasi jaringan manusia, seperti untuk jantung dan ginjal, karena mampu menekan efek penolakan tubuh atas organ baru. Aspirin dan banyak obat-obatan lainnya yang sekarang mampu disintesakan kimiawi, pertama kali diekstraksi dari tumbuhan liar. Senyawa-senyawa yang diekstraksi dari tumbuhan, mikroba dan hewan merupakan komponen dalam perumusan 20 obat-obatan terlaris di Amerika yang mencapai angka perdagangan sebesar 6 milyar dolar pada tahun 1988.

Komponen keanekaragaman hayati juga mempunyai fungsi sebagai komoditi pariwisata,. Diseluruh dunia, pariwisata alam menghasilkan sekitar 2 hingga 12 milyar dolar pendapatan setiap tahun.

Selain fungsi ekonomi seperti tersebut diatas, keanekeragaman hayati mempunyai fungsi sosial dan ekologis. Fungsi sosial keanekaragaman hayati adalah memberikan kesempatan atau lapangan kerja, bagian dari elemen spiritual masyarakat yang membentuk budaya setempat, serta membentuk jati diri masyarakat. Nilai spiritual dan aspirasi dari fungsi sosial ini juga mempengaruhi atau meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat. Fungsi ekologis keanekaragaman hayati berkaitan dengan proses-proses ekologis keaneka ragaman hayati, yaitu proses pertumbuhan, perkembangbiakan, dan evolusi. Tumbuhan menghasilkan oksigen dan menyaring polutan udara, memberikan mutu udara yang diperukan untuk pernafasan manusia serta makhlluk hidup lainnya. Proses mikroorganisme tanah memperbaiki kondisi kimiawi dan biologis tanah, struktur tanah serta kesuburan tanah secara umum, serta proses-proses lainnya mendukung kehidupan manusia dalam hal memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik.

Fungsi, jasa dan produk komponen keanekaragaman hayati diatas, serta besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan tidak akan dapat diperoleh secara lestari jika sumber dayanya sendiri tidak dikelola secara lestari. Dari gambaran di atas, dapat di ketahui bahwa keanekaragaman hayati berperan sangat penting dan vital untuk menjamin kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Mulai dari mutu udara, mutu air, mutu tanah, dan mutu lingkungan secara keseluruhan, hingga untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia, semuanya tergantung secara langsung maupun tak langsung pada keanekaragaman hayati.

III. STRATEGI NASIONAL PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

Keanekaragaman hayati Indonesia telah dimanfaatkan, baik secara langsung dari alam, maupun melalui kegiatan budi daya. Namun demikian masih banyak yang perlu di gali potensinya, dan masih banyak lagi kegiatan pemanfaatan yang harus di benahi, untuk menjadikan kekayaan nasional ini sebagai aset pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu pengetahuan yang mendasar mengenai besar dan sifat kekayaan nasional ini perlu ditingkatkan dengan memanfaatkan pengetahuan tradisional maupun teknologi yang sesuai sebagai dasar pengembangan pemanfaatan secara lestari.

Sebagaimana adat dan kebudaya yang telah berkembang selama berabad-abad, pendududk Indonesia telah memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati yang terdapat di seluruh kepulauan Indonesia. Pembiakan jenis-jenis lokal dari domba, sapi, ayam dan bebek, serta penggunaan sistem-sistem tradisional hutan-kebun dengan memanfaatkan tanaman-tanaman komersial setempat seperti jambu mete, cengkeh, kelapa dan berbagai tanaman penghasil serat, rempah-rempah dan obat-obatan. Tanaman-tanaman seperti tebu, rambutan, pisang, durian cengkeh dan kacang mete memang merupakan jenis-jenis asli dan telah dikembangkan oleh penduduk.

Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia yang merupakan sumber kehidupan masyarakat dan aset negara, maka dalam menjalankan kegiatan pembangunan perlu memperhatikan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya ini. Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional diperlukan kebijaksaan dan langkah-langkah yang terkoordinasi untuk menangani masalah pengelolaan keanekaragaman hayati bagi keperluan pembangunan. Hal ini mengingat pengelolaan keanekargaman hayati berada pada sektor maupun instansi yang terpisah. Kondisi ini tidak terlepas kemungkinan adanya tumpang-tindih kepentingan pengelolaan keanekaragaman hayati yang dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan.

Untuk mengelola keanekaragaman hayati Indonesia diperlukan strategi nasional sebagai alat bantu agar semua pihak dalam melaksanakan tugasnya mengupayakan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Strategi Nasional Pengelolaan Keanekargaman Hayati beserta Rencana Aksi Keaneakaragaman Hayati telah diterbitkan pada tahun 1993.

Dalam Strategi Nasional ini asas yang dianut adalah pemanfaatan ilmu dan teknologi, diversifikasi/penganekaragaman pemanfaatan, dan keterpaduan pengelolaan. Disadari bahwa pengelolaan keanekaragaman hayati tidak hanya terletak pada tanggung jawab pemerintah, tetapi semua pihak memiliki kepentingan dan kewajiban. Pihak pemerintah berkewajiban mengembangkan peraturan perundang-undangan pemanfaatan dan pelestariannya serta melaksanakan bagian yang menjadi kepentingan nasioanal atau umum. Asas keterpaduan dalam Strategi Nasional ini juga mengandung kewajiban bagi pemerintah untuk dapat menyelenggarakan koordinasi yang mantap dalam menselaraskan tugas dan kewajiban semua pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan keanekaregaman hayati.

Strategi Nasional juga mendorong untuk meningkatkan kerja sama internasional di bidang pengelolaan keanekaragaman hayati. Dalam kerja sama internasional ini Indonesia menganut asas bahwa keanekaragaman hayati merupakan sumber daya terbarukan yang di perlukan dalam meningkatkan harkat kemanusiaan. Dalam pengelolaannya setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya keanekaragaman hayati untuk menunjang pembangunan nasional.

Salah satu wujud kerja sama internasional dalam pengelolaan keanekaragaman hayati ini, Dalam KTT Bumi tahun 1992 di Rio de Janerio Indonesia telah menandatangani konvensi keanekaragaman hayati dan meratifikasi konvensi ini dalam Undang-Undang nomor 5 tahun 1994. Dengan konvensi ini Indonesia telah menjadi pihak konvensi.

IV.PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DALAM KESERASIAN LINGKUNGAN

1. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Berbasis bioregional

Di seluruh belahan dunia, perhatian pada permasalahan lingkungan terus meningkat. Perhatian ini adalah wujud keprihatinan mengenai keadaan lingkungan lokal maupun global dan perkiraan akan kecenderungan masa datang. Kepedulian masyarakat didasarkan pada realisasi bahwa kondisi sistem hayati dunia adalah fundamental bagi umat manusia dan bahwa pengaruh / dampak kegiatan kita pada sistem ini semakin meningkat secara eksponensial. Selama dekade terakhir, kepedulian dan perhatian ini difokuskan pada permasalahan keanekaragaman hayati. Konsep ilmiah dan sosial, permasalahan di seputar keanekaragaman hayati ini begitu kompleks dan sering kali disertai pengertian yang kurang cukup serta cara pandang yang terlalu sempit.

Apakah kita menghadapi krisis keanekaragaman hayati global ?, ataukah kita berada pada tengah-tengah krisis tersebut ?, tak satupun jawaban yang dapat memberikan gambaran yang sebenarnya. Estimasi terakhir menunjukan bahwa lebih dari setengah permukaan bumi yang menunjang komunitas makhluk hidup telah terkena dampak kegiatan manusia. Diperkirakan pula bahwa kita sekarang pada masa kepunahan masal jenis-jenis makhluk hidup. Keprihatinan ini bertambah lagi dengan adanya kesadaran bahwa pengetahuan kita tentang keragaman dan keanekaan jenis tumbuhan, hewan, jasad renik dan ekosistem dimana mereka berada dan berinteraksi benar-benar kurang lengkap.

Pengertian pembangunan semesta pada beberapa dekade yang lalu tidak menganut azas keseimbangan. Pembangunan lebih menitik beratkan pada aspek ekonomi, dimana eksploitasi sumber daya alam tidak di imbangi dengan rehabilitasi dan upaya pengawetan. Dengan adanya kesadaran akan dampak kerusakan yang di timbulkan dari kegiatan pemanfaatan yang tidak berwawasan lingkungan, pemahaman kedudukan manusia pada keseluruhan biosfer telah mengalami pergeseran. Manusia bukan lagi menganggap dirinya diluar ekosistem, melainkan merupakan bagian dari ekosistem tersebut. Pengertian keanekaragaman hayati menjadi lebih luas lagi dengan melibatkan komponen manusia dengan segala kebudayaan dan sistem sosial ekonominya.

Bahkan jika seluruh ekosistem alam yang tersisa dapat dilindungi dari pengaruh pembangunan, ekosistem yang tersisa ini tidak cukup untuk memelihara keanekaragaman hayati. Keaslian yang tersisa tidak cukup besar untuk memenuhi kebutuhan habitat bagi seluruh spesies atau untuk memenuhi fungsi ekologis yang penting. Jelas bahwa keberhasilan konservasi keanekaragaman hayati akan tergantung pada kemampuan pengelolaan seluruh lanskap untuk meminimalkan kepunahan keanekaragma hayati.

Kebutuhan manusia dan kegiatannya harus di selaraskan dengan pemeliharaan keanekaragaman hayati, dan kawasan konservasi harus dipadukan dengan lingkungan alam dan buatan sekitarnya. Kebun, hutan, areal peternakan, perikanan dan pemukiman perencananya harus segaris dengan projek restorasi lahan, rehabilitasi dan perlindungan kawasan, serta upaya konservasi lainnya. Skala upaya-upaya tersebut harus disesuaikan dengan proses-proses ekologis dan kebutuhan serta persepsi masyarakat setempat. Pendekatan keterpaduan ini di sebut dengan pengelolaan bioregional.

2. Konsep dan Pengertian bioregional

Kawasan bioregional adalah kawasan daratan dan perairan yang batas-batasnya tidak di tentukan oleh batas-batas politik, malainkan oleh batas geografis kelompok masyarakat dan sistem ekologis tertentu. Kawasan ini harus cukup besar / luas untuk menjaga integritas komunitas hayati, habitat dan ekosistem, untuk dapat mendukung proses-proses ekologis yang vital, seperti siklus nutrisi dan penguraian limbah, migrasi alami dan aliran air dan energi, untuk memenuhi kebutuhan habitat spesies-spesies kunci dan indikator, dan untuk mewadahi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pemahaman sumber daya hayati.

Luasan kawasan bioregional ini juga dibatasi oleh masyarakat setempat. Kawasan ini harus memiliki identitas kultural yang unik dimana masyarakat setempat mampu memanfaatkannya secara subsisten berdasarkan ulayat. Hak ulayat ini bukan berarti hak yang absolut, melainkan lebih berarti bahwa kebutuhan hidup, hak-hak dan kepentingan masyarakat lokal seyogyanya menjadi titik permulaan dan kriteria untuk pembangunan dan konservasi regional, serta dalam kerangka kegiatan dimana kepentingan baik negara, swasta dan peminat lainnya dapat diakomodasi.

Di dalam suatu bioregion terdapat mosaik pemanfaatan lahan dan perairan. Setiap petak penyusun mosaik tersebut menyediakan habitat dimana berbagai jenis mampu memepertahankan diri dan berkembang biak, serta setiap petak tersebut juga mempunyai hubungan tertentu dengan suatu wilayah pemukiman manusia. Semua komponen mosaik tersebut interaktif, seperti halnya pengelolaan suatu DAS akan mempengaruhi habitat sistem sungai, perkebunan/pertanian, kegiatan perikanan, kondisi muara sungai dan terumbu karang. Komponen-komponen tersebut juga harus bersifat dinamis; dimana perubahan dari waktu ke waktu seperti perubahan aliran sungai, regenerasi masa bero dan tanam di lahan pertanian, dan sebagainya telah diantisipasi dalam pengelolaannya. Sifat kedinamisan ini memberi kemampuan bioregion yang di kelola dengan baik, ketahanan dan fleksibilitas untuk beradaptasi pada evolusi dan pengaruh kegiatan manusia (baik terhadap perubahan iklim maupun perubahan pasar/komoditas).

Didalam kerangka ekologis dan sosial, pemerintahan, masyarakat, serta pihak swasta berbagi tanggung jawab untuk mengkoordinasikan penataan pemanfaatan lahan baik untuk lahan ulayat dan lahan milik serta untuk menentukan dan melaksanakan pilihan-pilihan pembangunan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan manusia secara berkelanjutan. Adanya saling membutuhkan ini membentuk keterpaduan kelembagaan dan kerja sama sosial. Dialog diantara berbagai kepentingan, perencanaan partisipatif, dan kelembagaan yang cukup fleksibel sangat menentukan keberhasilan pengelolaan bioregion. Perangkat dan teknologi konservasi dalam jangkauan yang cukup luas harus juga diperhatikan, diantaranya pengelolaan kawasan yang dilindungi, teknologi konservasi ex situ, rehabilitasi lanskap, serta pengelolaan secara berkelanjutan sumber daya kehutanan, pertanian, dan perikanan.

Konsep suaka biosfer seperti yang telah dimunculkan oleh MAB (Man and Biosphere Programme) pada tahun 1979, merupakan model pertama yang dapat digunakan sebagai titik awal pengelolaan bioregional. Dalam model kawasan suaka ini, suatu area kawasan lindung sebagai pusat biosphere dikelilingi oleh zona penyangga dan kemudian kawasan peralihan. Pemanfaatan yang diperkenankan dalam zona penyangga di batasi pada kegiatan yang sesuai dengan fungsi perlindungan kawasan inti, seperti penelitian, pendidikan, rekreasi dan kepariwisataan, sedangkan kegiatan konservasi ex situ, pembangunan pertanian dan kehutanan diperkenankan di zona/kawasan peralihan. Dalam zona peralihan ini pemukiman dan kegiatan budi-daya secara tradisional diperkenankan. Namun dalam skala pertanian yang besar hanya diperkenankan dilaksanakan di daerah budi daya, yaitu di luar zona peralihan.

Beberapa negara telah mulai menjembatani konsep biosfer ini dengan penerapannya melalui beberapa peraturan perundangan. Indonesia, sebagai contoh, dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai konservasi Sumber Daya Alam hayati dan ekosistemnya, menetapkan bahwa suaka biosfer ini adalah salah satu kategori kawasan konservasi yang diakui secara legal.

3. Dinamika dan Elemen bioregional

Bioregional memiliki keunggulan ekologi, ekonomi dan sosial budaya yang jelas. Pengelolaan keanekaragaman hayati dan pembangunan daerah melalui konsep bioregional ini memberikan skala pembangunan dalam ruang dan sosial yang wajar dan manusia bagi sebagian besar masyarakat. Peralihan dari konsep pembangunan yang konservatif dan konsep bioregional membutuhkan penyelarasan faktor sosial yang cukup besar. Masyarakat di harapkan dapat memulai pengembangan jati diri dalam pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berdasar keunggulan daerah yang dimilikinya; keunggulan tersebut adalah kearifan setempat dalam pengelolaan lingkunagan, komponen keanekaragaman hayati yang khas dan mempunyai potensi pasar, dan berbagai kondisi yang menguntungkan dalam bioregionalnya.

Tiga masalah utama dalam pengembangan perekonomian berdasar jati diri daerah adalah :
a). Pendekatan bioregional membutuhkan kemauan politik daerah dan pusat untuk desentralisasi, membuka peluang lebih besar untuk akses dan kesetaraan dan penanganan atau tindakan kelembagaan bagi sebagian besar sektor pembangunan. Pada saat ini, perencanaan dan pengelolaan sumber daya masih dirasa terlalu tersentralisasi, pembagian dan spesialisasi sektoral masih terlalu besar, dan sebagian besar peraturan perundangan dan struktur administratif belum dapat mendukung konsep ini ;

b).Berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan pembangunan berbasis bioregion mempunyai kekuasaan, akses dan pemilikan informasi yang tidak setara, sehingga masing-masing aktor ini tidak dapat berpartisipasi secara efektif dan merata ;

c).Pemerintah daerah atau sektor terkait belum mengembangkan studi mengenai potensi komponen keanekaragaman hayati unggulan yang dapat merupakan jati diri daerah dalam arti mampu dikembangkan sebagai komoditi unggulan bagi perekonomian daerah, atau merupakan ciri khas daerah yang mampu dikembangkan budi dayanya untuk memperoleh nilai ekonomi.

Sebagai penjelasan dari pendekatan konsep pembangunan bioregional dapat digambarkan dalam elemen dan dinamika bioregion sebagai berikut :

1. Bioregional development plan berpusat pada kawasan-kawasan lindung dan atau kawasan konservasi yang sudah ada sebagai inti bioregion, dimana fungsi-fungsi ekologis dan pengawetan plasmanutfah dilaksanakan dengan ketat; kawasan ini dikelilingi oleh suatu ozon penyangga yang berfungsi untuk penelitian, pendidikan, perlindungan dan kegiatan ekstraksi secara sangat terbatas. Di sebelah luar dari zona penyangga ini terdapat zona peralihan dimana kegiatan ekstraksi dalam bentuk hutan produksi terbatas dan pertanian/peternakan terbatas dapat dilaksanakan. Di luar zona ini, terdapat kawasan produksi/budi-daya dan pemukiman. Dari segi pengembangan dan ketahanan komoditas, zona inti bioregion yang dikelola sebagai pusat konservasi yang dimaksud dapat di kembangkan atau ditetapkan dari hasil studi pusat keanekaragaman hayati unggulan.

2. Daerah aliran sungai (DAS) dikelola secara keseluruhan, mulai dari mata air di daerah pegunungan hingga kelautan, serta melintasi berbagai tata guna lahan dari kawasan lindung di daerah pegunungan hingga ke perikanan tambak di daerah muara sungai.

3. Lahan-lahan kritis di rehabilitasi hingga mempunyai berbagai nilai pemanfaatan, termasuk untuk konservasi air dan tanah, perlindungan kawasan pesisir, produksi kayu, pertanian, peternakan, dan perluasan kawasan lindung.

4. Kawasan pesisir dan lautan dikelola untuk mengkonservasi terumbu karang dan kunci, mangrove, pantai dan elemen lainnya, menjaga produktivitas perikanan laut, serta mendukung pembangunan perekonomian masyarakat setempat melalui pengembangan pariwisata alam yang di tata secara hati-hati.

5. Dataran penggembalaan dikelola dalam batas-batas daya dukungnya untuk memelihara flora-fauna asli, mengembangkan ternak, dan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat peternak, atau petani nomad. Dalam menjaga daya dukung kawasan diutamakan untuk mengembangkan ternak asli daerah dan apabila akan dikembangkan ternak dari luar, harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

6. Lahan-lahan pertanian dikelola untuk mengoptimalkan produktivitas jangka panjang dan ikut melestarikan keanekaragaman hayati dengan mengurangi bahan kimiawi sistesis untuk pemupukan dan pengendalian hama-penyakit, memanfaatkan sebesar mungkin jenis-jenis unggulan lokal sebelum memutuskan menggunakan bibit eksotik, serta melakukan penanaman pohon-pohonan, pembatas lahan, perindang jalan dan hutan masyarakat dalam membentuk lanskap kawasan pertanian. Kembangkan juga agroforestydi dalam pemanfaatan zona peralihan.

7. Suatu rangkaian kelembagaan berbasis masyarakat sebagai pendukung konservasi keanekaragaman hayati termasuk penyimpanan benih (seedbank), pelayanan penyuluhan pertanian, serta stasiun penelitian, inventarisasi dan pemantauan keanekaragaman hayati perlu dikembangkan bersama-sama dalam bioregion tertentu.

8. Kawasan perkotaan yang besar dalam suatu bioregion menyediakan serangkaian lembaga pendukung. Termasuk dalam hal ini adalah kebun binatang, akuarium, dan kebun raya yang dapat dimanfaatkan untuk mengawektan (secara terbatas) jenis-jenis yang terancam kepunahan dan mendidik masyarakat; sekolah-sekolah dan tempat ibadah, serta media massa untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat; lembaga swadaya masyarakat dapat membantu menyediakan dukungan dan informasi baik bagi pemerintah maupun masyarakat; serta pusat informasi keanekaragaman hayati yang berperan sebagai focal point untuk dialog bioregional, pertukaran informasi dan kegiatan kolektif.

V. PENUTUP
Seperti anggota komunitas makhluk hidup lainnya, manusia tergantung pada lingkungannya. Dengan kelengkapan akal budinya yang jauh lebih unggul dari makhluk hidup lain, manusia tidak hanya beradaptasi dan berevolusi secara pasif namun, namun mampu mengubah lingkungannya agar lebih menguntungkan dan sesuai denngan kebutuhan hidupnya. Sesuai dengan perkembangan kebudayaannya, sejarah interaksi manusia dimulai dari tahap/fase pengumpul atau pemburu, fase pertanian, fase pembentukan kawasan permukiman, hingga fase modern dengan konsumsi energi tinggi.

Pada setiap fase interaksi ini, bentuk hubungan pengaruh dan mempengaruhi berubah sesuai dengan tekhnologi dan kapasitas yang dikembangkannya. Manusia tidak lagi tergantung dengan sumber daya yang ada di alam, namun dengan kelebihan inovasinya mulai mampu membudidayakan, meningkatkan produktivitas komponen keanekaragaman hayati dan menekan faktor-faktor yang tidak mennguntungkan produksi.

Dengan semakin meningkatnya populasi dan kebutuhan hidupnya, serta dengan perkembangan industrialisasi, dampak kegiatan manusia pada kondisi dan dinamika keanekaragaman hayati semakin besar. Kebutuhan yang meningkat sering kali menyebabkan kurang diindahkannya pertimbangan lingkungan; pemanenan hasil alam berupa hasil hutan dan perikanan sering kali hanya mempertimbangkan pemenuhan bahan baku industri dan kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek. Pertanian tradisional yang lebih mempertahankan keanekaragaman hayati digantikan dengan pertanian berinput tinggi, dengan keanekaragaman hayati rendah dan intensiv. Pertanian intensiv sering kali tidak mempertahankan penggalian bibit lokal demi untuk memenuhi pasaran global.

Akibat yang segera tampak adalah degradasi lahan, terutama penurunan produktivitas lahan, penggundulan hutan dan meningkatnya kasus-kasus bencana alam. Dalam jangka panjang, dampak yang akan muncul adalah kejenuhan lingkungan, akibat tertekannya daya dukung lingkungan dan meningkatnya kerusakan lahan dan fungsiekologis keanekaragaman hayai. Bila hal ini terus berlanjut maka ketiga fungsi keanekaragaman hayati akan rusak dan manusia sendiri yang harus menerima akibatnya.

Esensi dari pendekatan bioreginal adalah untuk mewadahi dan melibatkan konservasi keanekaragaman hayati dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan sumber daya alam lainnya, termasuk yang utama ditujukan untuk produksi ekonomi. Dengan demikian, pendekatan bioregional development plan adalah upaya memadukan tujuan konservasi keanekaragaman hayati dalam pengelolaan hutan, pertanian, perternakan, perikanan dan pengembangan kawasan pemukiman/perkotaan, serta dalam pembangunan dilahan basah dan semua lanskap. Teknik dan strategi konservasi keanekaragaman hayati pada berbagai bentukan lanskap tersebut diatas sebenarnya sudah ada, namun perlu ditingkatkan lagi dan dilaksanakan secara lebih terpadu dan luas.

Pemanfaatan keanekaragaman hayati unggulan daerah dalam konsep bioregional ini sebenarnya menguntungkan secara ekonomi dan ekologis. Pemanfaatan jenis-jenis asli/setempat akan membantu pemeliharaan keanekaragaman setempat dan meningkatkan efisiensi pemeliharaan, karena sangat sedikit membutuhkan input kapital dalam proses produksi (pupuk, pertisida, dll.).

Sumber : perpustakaan.menlh.go.id