Halaman

Selasa, 26 Mei 2009

ಕಂಪಾಸ್.com

Kisah Waris Istana Pagaruyung
Kompas/Agnes Rita Sulistyawaty
Puti Reno Raudhatuljannah Thaib
/
Oleh Agnes Rita Sulistyawaty

Puti Reno Raudhatuljannah Thaib ingat betul betapa sejuknya hawa di rumah gadang yang ditudungi ijuk sebagai atapnya. Selain menyerap panas, ijuk juga awet sampai puluhan tahun dan mudah dibentuk mengikuti lekuk rumah gadang.

Ijuk itu seperti menahan hawa panas dari luar. Jadi, yang tersisa tinggal hawa sejuk di dalam rumah. Untuk mendapatkannya juga mudah karena ijuk berasal dari tumbuhan enau," ujar Upik, sapaan Puti Reno Raudhatuljannah Thaib, pewaris Istana Pagaruyung di Sumatera Barat ini.

"Enau ini tanaman endemik di Indonesia. Orang-orang tua melihat dari apa yang ada untuk dimanfaatkan, termasuk ijuk untuk atap rumah. Pastilah ini melalui proses trial and error, sebelum mereka memilih ijuk untuk atap rumah," tambahnya.

Untuk rumah gadang seukuran Istana Pagaruyung-yang terbakar akhir Februari 2007-kebutuhan ijuk mencapai 200 ton. "Kalau melihat kebutuhan yang besar itu, saya sempat bingung dari mana mendapatkannya," kata dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas itu.

Dia bingung lantaran perkembangbiakan enau membutuhkan waktu lama. Selama ini, petani memakai cara alami untuk menambah jumlah tanaman enau dengan menanam bijinya. Padahal, biji enau mempunyai masa tidur (dorman) sampai setahun. Referensi perkembangbiakan atau informasi umum tentang budidaya enau juga masih minim.

Kalaupun ada "teknologi" alami yang bisa mengurangi masa tidur, petani hanya mengandalkan musang. Hewan ini biasa mengonsumsi biji enau dan mengeluarkannya lagi bersama kotoran. Selama proses di perut musang ini ada zat yang menyebabkan dorman enau bisa berkurang. Sayangnya, populasi musang juga semakin berkurang.

Berangkat dari keingintahuan cara perkembangbiakan enau secara lebih cepat, Upik meneliti enau di laboratorium dan lapangan sejak mengambil gelar S-2 pada tahun 1997. Tahun 2007 ia berhasil mendapatkan formula mengurangi masa tidur enau, sekaligus membuka pintu menuju kultur jaringan dan rekayasa genetika enau.

"Masa dorman enau bisa dikurangi sampai 141,07 hari. Jumlah tanaman baru yang dihasilkan juga tak hanya satu batang, tetapi antara 6-21," kata Upik yang tahun 2007 juga meraih gelar doktor dari Universitas Andalas lewat penelitian ini. Tetapi, perempuan yang menyelesaikan S-3 pada usia 60 tahun ini menambahkan, temuannya masih awal dan belum bisa diaplikasikan oleh petani.

Sosio-kultural

Ketertarikan Upik pada enau dimulai dari lingkungan masa kecilnya di Istana Pagaruyung. Di sini pohon enau dianggap liar, meski hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan masyarakat setempat.

Enau tak hanya diambil ijuknya, tetapi juga disadap niranya untuk bahan baku pembuatan gula aren, atau dijadikan suguhan untuk diminum langsung. Ketika melakukan penelitian di Kanagarian Andaleh Baruah Bukik, Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, nira menjadi suguhan gratis bagi pendatang. Adapun gula arennya dipakai untuk hampir semua masakan Minang.

Daun enau tak dibuang begitu saja. Daun enau yang telah dihilangkan lapisan lilinnya dipakai untuk pembungkus rokok. Upik tahu persis bagaimana cara menghilangkan lapisan lilin itu.

Dari prinsip dasar bahan bakar nabati, ia yakin enau berpotensi sebagai bahan bakar alternatif, mengingat kandungan karbohidratnya tinggi. Hanya saja, siapa yang akan memikirkan cara mengolah enau?

"Ketertarikan saya pada enau tak bisa lepas dari masalah sosial-budaya karena berbagai persentuhan saya dengan enau, selain pertimbangan sosial-ekonomi," ujarnya.

Pertimbangan kedekatan masyarakat dengan jenis tanaman ini, kata Upik, seharusnya menjadi pola pemerintah agar berhasil melaksanakan program penanaman pohon. "Kalau masyarakat hanya disuruh, program tak akan berhasil karena mereka tak tahu manfaat pohon itu," papar Upik yang juga dikenal sebagai penyair bernama samaran Upita Agustine.

Lebih jauh Upik melihat bahwa masyarakat Minang tak sekadar menganggap enau sebagai pohon yang memberi penghasilan ekonomi, tetapi juga sebagai salah satu tumbuhan konservasi. Hukum adat di masyarakat Minangkabau melindungi tumbuhan yang ada di hutan, termasuk enau. Tumbuhan seperti ini tidak boleh ditebang sembarangan.

Dia berpendapat, ada nilai pelestarian lingkungan yang dianut masyarakat sejak dulu, apalagi enau terkenal sebagai tumbuhan yang bisa hidup pada kemiringan tanah sampai 20 persen, serta sebaran akar serabut hingga 10 meter dengan kedalaman tiga meter.

"Sayang kearifan lokal itu makin luntur. Siapa yang punya uang bisa seenaknya menebang pohon, maka yang terjadi banyak bencana," kata keturunan ke-13 Raja Pagaruyung tersebut.

Kesempatan setara

Perihal kearifan lokal yang semakin luntur jugalah yang mendorong Upik untuk mengasah ilmu dan memperluas wawasan. Apalagi, kesempatan menempuh pendidikan tinggi tak lepas dari budaya keluarga Upik dan lingkungan Minang pada umumnya, yang menganut kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki untuk berkembang. "Rasanya salah kalau saya menyia-nyiakan kesempatan itu."

Seluruh ilmu dan pengetahuan yang diperoleh membawa dia pada kesimpulan baru tentang adat. "Perlu redefinisi lagi, mendudukkan adat dan budaya pada konteks saat ini agar generasi muda tertarik dan paham tujuan adat serta budaya itu," kata penyandang gelar Yang Dipertuan Gadih Pagaruyung ini.

Dia mencontohkan, meskipun sudah dewasa, anak-anaknya harus menyempatkan diri bertemu dengan saudara-saudara, terutama mereka yang usianya lebih tua. Dengan demikian, selain silaturahmi tetap terjaga, tata cara sopan santun pun tidak hilang.

Sebagai keluarga raja, Upik memandang hal ini sebagai salah satu tanggung jawab yang merentang di pundaknya. Ia menjalani tanggung jawab itu dengan senang hati. Pergelutan dengan enau menjadi salah satu "buahnya".

MENYANDANG GELAR

Puti Reno Raudhatuljannah Thaib lahir di Pagaruyung, 31 Agustus 1947, dari orangtua Sutan Muhammad Thaib dan Puti Reno Disma Yang Dipertuan Gadih Gadang. Sebagai bagian dari keluarga Ahli Waris Daulat Raja Pagaruyung, Upik dan lima saudara perempuan di kaumnya berhak menyandang gelar Yang Dipertuan Gadih Pagaruyung, setelah sang ibunda wafat.

Pendidikan hingga SMA diselesaikan Upik di Batusangkar, hingga tahun 1965. Tahun 1975 ia merampungkan pendidikan sarjana pertanian di Universitas Andalas. Pada tahun 1997 dia meraih S-2, diikuti gelar doktor tahun 2007. Tumbuhan enau menjadi fokus penelitiannya untuk meraih S-2 maupun S-3.

Tahun 1978 Upik menikah dengan sastrawan Wisran Hadi (62). Mereka dikaruniai tiga putra, yakni Sutan Ahmad Riyad (27), Sutan Muhammad Ridha (26), dan Sutan Muhammad Thoriq (23).

Ia tidak hanya dikenal sebagai dosen dan peneliti bidang benih, tetapi Upik juga menjadi penyair dengan nama samaran Upita Agustine. Salah satu buku kumpulan puisi karyanya berjudul Nyanyian Anak Cucu yang lahir pada tahun 2000.

Nama Upik melekat sebagai nama panggilannya, kendati nama itu sebenarnya adalah panggilan bagi anak perempuan di wilayah tersebut pada umumnya. Dia memilih nama samaran Upita Agustine karena ada kemiripan dengan sebutan Upik dan bulan Agustus sebagai bulan kelahirannya.
Sumber : Kompas Cetak
Akses http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda

Jumat, 15 Mei 2009

Ilmu Genetika

Agriwacana
PEMULIAAN PADI, TANPA MEMAHAMI ILMU GENETIKA MUNGKINKAH?

Oleh: Sumarno
Petani sebagai pemulia tanaman sebenarnya bukanlah merupakan hal yang baru. Menyilangkan dua tanaman sejenis yang memiliki sifat berbeda, dengan tujuan memperoleh gabungan sifat baik dari kedua tetua yang disilangkan, sudah banyak dilakukan oleh masyarakat, terutama pada anggrek; anthurium; aglaonema; dan berbagai jenis tanaman hias. Dari para penyilang (breeder) kreatif tersebut berhasil mendapatkan varietas atau strain baru, yang memiliki sifat baru berbeda dari tetuanya. Beberapa varietas baru hasil silangan pemulia amatir tersebut secara tidak resmi telah diberi nama komersial dan diperjual-belikan sebagai hibrida. Pemulia anggrek yang paling produktif di Indonesia adalah petani anggrek, bukan peneliti pemulia formal. Bahkan pada tanaman tulip, varietas yang paling mashur karena warna bunganya hitam, dibuat oleh petani tulip di Belanda, bukan oleh peneliti tulip.
Mendapat inspirasi dari keberhasilan memperoleh “jenis” baru berasal dari persilangan pada tanaman anggrek, anthurium dan tanaman lain yang dibiakkan secara vegetatif, lantas beberapa orang berinisiatif menyilangkan padi untuk membuat varietas baru yang lebih unggul. Sudah barang tentu ide menyilangkan padi untuk membuat varietas unggul baru syah sekali, dan tidak ada peraturan yang melarang. Masalahnya, apabila pemulia petani yang ingin mandiri, tetapi tidak memahami dasar-dasar ilmu genetika, mungkinkah mereka berhasil membuat varietas unggul padi yang benar-benar unggul? Tanaman padi sangat berbeda cara pembiakannya dibandingkan dengan anggrek atau anthurium, atau ubi kayu, ubi jalar dan tebu. Pada tanaman yang dibiakkan secara vegetatif, tanaman hibrida dapat digandakan melalui stek, anakan, cangkok, atau kultur jaringan untuk dijadikan bibit (benih), sehingga hasil silangan dapat langsung dikembangkan sebagai varietas. Tidak demikian halnya dengan tanaman padi yang dibiakkan melalui biji.

Biji Silangan Padi
Biji hasil silangan padi, yang dihasilkan secara manual, tentu jumlahnya sangat sedikit, mungkin hanya 10-50 biji. Biji hibrida ini tidak mungkin untuk benih bagi areal yang luas, karena setiap ha memerlukan sekitar 400.000-500.000 biji gabah sebagai benih.
Untuk dapat mencapai jumlah biji (benih) yang sangat banyak tersebut, biji hibrida tidak lantas diperbanyak begitu saja, karena turunan persilangan pada generasi ke 2 dan seterusnya akan menghasilkan tanaman campuran, berasal dari pemisahan gen-gen pada generasi ke 2, ke 3, ke 4 hingga ke 6. Di samping itu, tidak semua tanaman turunan silangan tadi sifat-sifatnya lebih baik dibanding tetuanya. Di sinilah perlunya seorang pemulia padi memiliki dasar pemahaman ilmu genetika.
Setiap mahasiswa yang belajar ilmu pemuliaan akan diuji dengan pertanyaan-pertanyaan tentang: berapa banyaknya tanaman harus dipelihara pada generasi ke 2 agar terdapat peluang 95% memperoleh tanaman yang mengandung gabungan sifat genetik dari tetua yang disilangkan. Banyaknya populasi ideal generasi ke 2 sangat tergantung dari banyaknya gen-gen yang mengatur sifat-sifat yang akan digabungkan. Semakin banyak kombinasi sifat-sifat yang diinginkan, akan semakin besar jumlah tanaman generasi ke dua harus ditanam untuk dipilih. Permasalahan yang sama juga berlaku untuk populasi tanaman generasi ke 3; ke 4; ke 5 dan ke 6, sebelum dibuat galur murni sebagai calon varietas.
Jadi apabila pada generasi ke 2; ke 3; ke 4 atau ke 5 masing-masing hanya dipelihara 10 hingga 100 batang, akan terjadi kehilangan sifat-sifat yang dicari. Dengan menggunakan rumus, banyaknya tanaman yang harus dipelihara pada generasi ke 2 hingga ke 6 menjadi sekitar 300 hingga 600 tanaman (batang), tergantung metoda seleksi yang dipergunakan. Apabila galur sudah mantap pada generasi ke 7 atau ke 8, baru dipilih “tanaman ideal” yang memiliki sifat gabungan dari kedua tetuanya. Galur terpilih ini perlu diuji toleransi atau ketahanannya terhadap hama utama seperti wereng coklat dan penyakit kresek. Hanya galur yang memiliki tingkat ketahanan saja yang dapat diteruskan untuk uji daya hasil dan uji adaptasi.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 0815 8441 4991)

Selasa, 12 Mei 2009

Sumber Daya Alam

Biologi Kelas 1 > Pelestarian Sumber Daya Alam hayati
40

< Sebelum Sesudah >

Alam pada dasarnya mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan itu.

Semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam nonhayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam bersifat terbatas.

Sumber daya alam ialah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan, hewan, udara, air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan mikroba (jasad renik).
Menurut urutan kepentingan, kebutuhan hidup manusia, dibagi menjadi dua sebagai berikut.
1. Kebutuhan Dasar.
Kebutuhan ini bersifat mutlak diperlukan untuk hidup sehat dan aman.
Yang termasuk kebutuhan ini adalah sandang, pangan, papan, dan
udara bersih.

2. Kebutuhan sekunder.
Kebutuhan ini merupakan segala sesuatu yang diperlukan untuk lebih
menikmati hidup, yaitu rekreasi, transportasi, pendidikan, dan hiburan.

Mutu lingkungan
Pandangan orang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memang berbeda-beda karena antara lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pertimbangan kebutuhan, sosial budaya, dan waktu.

Semakin meningkat pemenuhan kebutuhan untuk kelangsungan hidup, maka semakin baik pula mutu hidup. Derajat pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam kondisi lingkungan disebut mutu lingkungan.

Daya dukung lingkungan
Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan tersedianya cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosial tertentu disebut daya dukung lingkungan. Singkatnya, daya dukung lingkungan ialah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan semua makhluk hidup.

Di bumi ini, penyebaran sumber daya alam tidak merata letaknya. Ada bagianbagian bumi yang sangat kaya akan mineral, ada pula yang tidak. Ada yang baik untuk pertanian ada pula yang tidak. Oleh karena itu, agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi sumber daya alam harus disertai dengan tindakan perlindungan. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut :
1. Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan
hati-hati dan efisien, misalnya: air, tanah, dan udara.
2. Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran).
3. Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang efisien,
serta pendaurulangan (recycling).
4. Melaksanakan etika lingkungan berdasarkan falsafah hidup secara
damai dengan alam.

1. Macam-macam sumber Daya Alam
Sumber daya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan jenisnya.
a. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), misalnya: hewan,
tumbuhan, mikroba, air, dan tanah. Disebut ter barukan karena dapat
melakukan reproduksi dan memiliki daya regenerasi (pulih kembali).
2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable), misalnya:
minyak tanah, gas bumf, batu tiara, dan bahan tambang lainnya.
3. Sumber daya alam yang tidak habis, misalnya, udara, matahari,
energi pasang surut, dan energi laut.

b. Berdasarkan potensi
Menurut potensi penggunaannya, sumber daya alam dibagi beberapa macam, antara lain sebagai berikut.
1. Sumber daya alam materi; merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya. Misalnya, batu, besi, emas,
kayu, serat kapas, rosela, dan sebagainya.
2. Sumber daya alam energi; merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan energinya. Misalnya batu bara, minyak bumi, gas bumi,
air terjun, sinar matahari, energi pasang surut laut, kincir angin, dan
lain-lain.
3. Sumber daya alam ruang; merupakan sumber daya alam yang berupa
ruang atau tempat hidup, misalnya area tanah (daratan) dan
angkasa.

c. Berdasarkan jenis
Menurut jenisnya, sumber daya alam dibagi dua sebagai berikut :
1. Sumber daya alam nonhayati (abiotik); disebut juga sumber daya
alam fisik, yaitu sumber daya alam yang berupa benda-benda mati.
Misalnya : bahan tambang, tanah, air, dan kincir angin.
2. Sumber daya alam hayati (biotik); merupakan sumber daya alam
yang berupa makhluk hidup. Misalnya: hewan, tumbuhan, mikroba,
dan manusia.
Uraian di sini hanya akan ditekankan pada sumber daya alam hayati, termasuk di dalamnya sumber daya manusia (SDM).

2. Sumber Daya Tumbuhan
Berbicara tentang sumber daya alam tumbuhan kita tidak dapat menyebutkan jenis tumbuhannya, melainkan kegunaannya. Misalnya berguna untuk pangan, sandang, pagan, dan rekreasi. Akan tetapi untuk bunga-bunga tertentu, seperti melati, anggrek bulan, dan Rafflesia arnoldi merupakan pengecualian karena ketiga tanaman bunga tersebut sejak tanggal 9 Januari 1993 telah ditetapkan dalam Keppres No. 4 tahun 1993 sebagai bunga nasional dengan masing-masing gelar sebagai berikut.

1. Melati sebagai bunga bangsa.
2. Anggrek bulan sebagai bunga pesona.
3. Raffiesia arnoldi sebagai bunga langka.

Tumbuhan memiliki kemampuan untuk menghasilkan oksigen dan tepung melalui proses fotosintesis. Oleh karena itu, tumbuhan merupakan produsen atau penyusun dasar rantai makanan.

Eksploitasi tumbuhan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan dan kepunahan, dan hal ini akan berkaitan dengan rusaknya rantai makanan.

Kerusakan yang terjadi karena punahnya salah satu faktor dari rantai makanan akan berakibat punahnya konsumen tingkat di atasnya. Jika suatu spesies organisme punah, maka spesies itu tidak pernah akan muncul lagi. Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, hal itu merupakan suatu ke rugian besar.

Selain telah adanya sumber daya tumbuhan yang punah, beberapa jenis tumbuhan langka terancam pula oleh kepunahan, misalnya Rafflesia arnoldi (di Indonesia) dan pohon raksasa kayu merah (Giant Redwood di Amerika). Dalam mengeksploitasi sumber daya tumbuhan, khususnya hutan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
a. Tidak melakukan penebangan pohon di hutan dengan semena-mena
(tebang habis).
b. Penebangan kayu di hutan dilaksanakan dengan terencana dengan
sistem tebang pilih (penebangan selektif). Artinya, pohon yang
ditebang adalah pohon yang sudah tua dengan ukuran tertentu yang
telah ditentukan.
c. Cara penebangannya pun harus dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga tidak merusak pohon-pohon muda di sekitarnya.
d. Melakukan reboisasi (reforestasi), yaitu menghutankan kembali hutan
yang sudah terlanjur rusak.
e. Melaksanakan aforestasi, yaitu menghutankan daerah yang bukan
hutan untuk mengganti daerah hutan yang digunakan untuk keperluan
lain.
f. Mencegah kebakaran hutan.
Kerusakan hutan yang paling besar dan sangat merugikan adalah kebakaran hutan. Diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikannya menjadi hutan kembali.

Hal-hal yang sering menjadi penyebab kebakaran hutan antara lain sebagai berikut :
a. Musim kemarau yang sangat panjang.
b. Meninggalkan bekas api unggun yang membara di hutan.
c. Pembuatan arang di hutan.
d. Membuang puntung rokok sembarangan di hutan.

Untuk mengatasi kebakaran hutan diperlukan hal-hal berikut ini.
a. Menara pengamat yang tinggi dan alat telekomunikasi.
b. Patroli hutan untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran.
c. Sistem transportasi mobil pemadam kebakaran yang siap digunakan.

Pemadaman kebakaran hutan dapat dilakukan dengan dua cara seperti berikut ini :
a. Secara langsung dilakukan pada api kecil dengan penyemprotan air.
b. Secara tidak langsung pada api yang telah terlanjur besar, yaitu
melokalisasi api dengan membakar daerah sekitar kebakaran, dan
mengarahkan api ke pusat pembakaran. Biasanya dimulai dari daerah
yang menghambat jalannya api, seperti: sungai, danau, jalan, dan
puncak bukit.

Pengelolaan hutan seperti di atas sangat penting demi pengawetan maupun pelestariannya karena banyaknya fungsi hutan seperti berikut ini :
1. Mencegah erosi; dengan adanya hutan, air hujan tidak langsung jatuh
ke permukaan tanah, dan dapat diserap oleh akar tanaman.
2. Sumber ekonomi; melalui penyediaan kayu, getah, bunga, hewan, dan
sebagainya.
3. Sumber plasma nutfah; keanekaragaman hewan dan tumbuhan di
hutan memungkinkan diperolehnya keanekaragaman gen.
4. Menjaga keseimbangan air di musim hujan dan musim kemarau.
Dengan terbentuknya humus di hutan, tanah menjadi gembur. Tanah
yang gembur mampu menahan air hujan sehingga meresap ke dalam
tanah, resapan air akan ditahan oleh akar-akar pohon. Dengan
demikian, di musim hujan air tidak berlebihan, sedangkan di musim
kemarau, danau, sungai, sumur dan sebagainya tidak kekurangan air.

3. Sumber Daya Hewan
Seperti pada ketiga macam bunga nasional, sejak tanggal 9-1-1995, ditetapkan pula tiga satwa nasional sebagai berikut :
1. Komodo (Varanus komodoensis) sebagai satwa nasional darat.
2. Ikan Solera merah sebagai satwa nasional air.
3. Elang jawa sebagai satwa nasional udara.

Selain ketiga satwa nasional di atas, masih banyak satwa Indonesia yang langka dan hampir punah. Misalnya Cendrawasih, Maleo, dan badak bercula satu.
Untuk mencegah kepunahan satwa langka, diusahakan pelestarian secara in situ dan ex situ. Pelestarian in situ adalah pelestarian yang dilakukan di habitat asalnya, sedangkan pelestarian ex situ adalah pelestarian satwa langka dengan memindahkan satwa langka dari habitatnya ke tempat lain.

Sumber daya alam hewan dapat berupa hewan liar maupun hewan yang sudah dibudidayakan. Termasuk sumber daya alam satwa liar adalah penghuni hutan, penghuni padang rumput, penghuni padang ilalang, penghuni steppa, dan penghuni savana. Misalnya badak, harimau, gajah, kera, ular, babi hutan, bermacam-macam burung, serangga, dan lainnya.

Termasuk sumber daya alam hewan piaraan antara lain adalah lembu, kuda, domba, kelinci, anjing, kucing, bermacam- macam unggas, ikan hias, ikan lele dumbo, ikan lele lokal, kerang, dan siput.

Terhadap hewan peliharaan itulah sifat terbarukan dikembangkan dengan baik. Selain memungut hasil dari peternakan dan perikanan, manusia jugs melakukan persilangan untuk mencari bibit unggul guns menambah keanekaragaman ternak.

Dipandang dari peranannya, hewan dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Sumber pangan, antara lain sapi, kerbau, ayam, itik, lele, dan mujaer.
b. Sumber sandang, antara lain bulu domba dan ulat sutera.
c. Sumber obat-obatan, antara lain ular kobra dan lebah madu.
d. Piaraan, antara lain kucing, burung, dan ikan hiss.

Untuk menjaga kelestarian satwa Langka, maka penangkapan hewan-hewan dan juga perburuan haruslah mentaati peraturan tertentu seperti berikut ini :
1. Para pemburu harus mempunyai lisensi (surat izin berburu).
2. Senjata untuk berburu harus tertentu macamnya.
3. Membayar pajak dan mematuhi undang-undang perburuan.
4. Harus menyerahkan sebagian tubuh yang diburunya kepada petugas
sebagai tropy, misalnya tanduknya.
5. Tidak boleh berburu hewan-hewan langka.
6. Ada hewan yang boleh ditangkap hanya pada bulan-bulan tertentu
saja. Misalnya, ikan salmon pada musim berbiak di sungai tidak boleh
ditangkap, atau kura-kura pads musim akan bertelur.
7. Harus melakukan konvensi dengan baik. Konuensi ialah aturan-aturan
yang tidak tertulis tetapi harus sudah diketahui oleh si pemburu
dengan sendirinya. Misalnya, tidak boleh menembak hewan buruan
yang sedang bunting, dan tidak boleh membiarkan hewan buas
buruannya lepas dalam keadaan terluka.

Akan tetapi, seringkali peraturan-peraturan tersebut tidak ditaati bahkan ada yang diam-diam memburu satwa langka untuk dijadikan bahan komoditi yang berharga. Satwa yang sering diburu untuk diambil kulitnya antara lain macan, beruang, dan ular, sedangkan gajah diambil gadingnya.

Sumber Daya Mikroba
Di samping sumber daya alam hewan dan tumbuhan terdapat sumber daya alam hayati yang bersifat mikroskopis, yaitu mikroba. Selain berperan sebagai dekomposer (pengurai) di dalam ekosistem, mikroba sangat penting artinya dalam beberapa hal seperti berikut ini :

a. sebagai bahan pangan atau mengubah bahan pangan menjadi bentuk
lain, seperti tape, sake, tempe, dan oncom
b. penghasil obat-obatan (antibiotik), misalnya, penisilin
c. membantu penyelesaian masalah pencemaran, misalnya pembuatan
biogas dan daur ulang sampah
d. membantu membasmi hama tanaman, misalnya Bacillus thuringiensis
e. untuk rekayasa genetika, misalnya, pencangkokan gen virus dengan
gen sel hewan untuk menghasilkan interferon yang dapat melawan
penyakit karena virus.
Rekayasa genetika dimulai Tahun 1970 oleh Dr. Paul Berg. Rekayasa genetika adalah penganekaragaman genetik dengan memanfaatkan fungsi materi genetik dari suatu organisme. Cara-cara rekayasa genetika tersebut antara lain: kultur jaringan, mutasi buatan, persilangan, dan pencangkokan gen. Rekayasa genetika dapat dimanfaatkan untuk tujuan berikut ini :

1. mendapatkan produk pertanian baru, seperti "pomato", merupakan
persilangan dari potato (kentang) dan tomato (tomat)
2. mendapatkan temak yang berkadar protein lebih tinggi
3. mendapatkan temak atau tanaman yang tahan hama
4. mendapatkan tanaman yang mampu menghasilkan insektisida sendiri.

Akhir-akhir ini tampak bahwa penggunaan sumber daya alam cenderung naik terus, karena:

a. pertambahan penduduk yang cepat
b. perkembangan peradaban manusia yang didukung oleh kemajuan sains
dan teknologi.

Oleh karena itu, agar sumber daya alam dapat bermanfaat dalam waktu yang panjang maka hal-hal berikut sangat perlu dilaksanakan.

1. Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang
maksimal, tetapi pengelolaan sumber daya alam harus diusahakan
agar produktivitasnya tetap berkelanjutan.

2. Eksploitasinya harus di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi
sumber daya alam.

3. Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang
ada agar dapat lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan
pengertian sikap serasi dengan lingkungannya.

4. Di dalam pengelolaan sumber daya alam hayati perlu adanya
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a. Teknologi yang dipakai tidak sampai merusak kemampuan sumber
daya untuk pembaruannya.
b. Sebagian hasil panen harus digunakan untuk menjamin
pertumbuhan sumber daya alam hayati.
c. Dampak negatif pengelolaannya harus ikut dikelola, misalnya
dengan daur ulang.
d. Pengelolaannya harus secara serentak disertai proses
pembaruannya.

5. Sumber Daya Manusia
Manusia dibedakan dari sumber daya alam hayati lainnya karena manusia memiliki kebudayaan, akal, dan budi yang tidak dimiliki oleh tumbuhan maupun hewan. Meskipun paling tinggi derajatnya, namun dalam ekosistem, manusia juga berinteraksi dengan lingkungannya, mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungannya sehingga termasuk dalam salah satu faktor saling ketergantungan. Berbeda dengan sumber daya hayati lainnya, penggunaan sumber daya manusia dibagi dua, yaitu sebagai berikut :
a. Manusia sebagai sumber daya fisik
Dengan energi yang tersimpan dalam ototnya manusia dapat bekerja
dalam berbagai bidang, antara lain: bidang perindustrian,
transportasi, perkebunan, perikanan, perhutanan, dan peternakan.

b. Manusia sebagai sumber daya mental
Kemampuan berpikir manusia merupakan suatu sumber daya alam
yang sangat penting, karena berfikir merupakan landasan utama bagi kebudayaan. Manusia sebagai makhluk hidup berbudaya, mampu
mengolah sumber daya alam untuk kepentingan hidupnya dan mampu
mengubah keadaan sumber daya alam berkat kemajuan ilmu dan
teknologinya. Dengan akal dan budinya, manusia menggunakan
sumber daya alam dengan penuh kebijaksanaan. Oleh karena itu,
manusia tidak dilihat hanya sebagai sumber energi, tapi yang
terutama ialah sebagai sumber daya cipta (sumber daya mental) yang
sangat penting bagi perkembangan kebudayaan manusia.

Sejarah Penggunaan Herbal

Sejarah Penggunaan Herbal
[13-12-2009]


Perkembangan pengobatan dengan memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat telah dicapai seiring dengan perkembangan kedokteran barat yang telah diakui dunia internasional. Penggunaan herbal atau tanaman obat sebagai obat dikatakan sama tuanya dengan umur manusia itu sendiri. Sejak jaman dahulu makanan dan obat-obatan tidak dapat dipisahkan dan banyak tumbuh-tumbuhan dimakan karena khasiatnya yang menyehatkan.

Pada jaman mesir kuno, dimana para budak diberi ransum bawang setiap hari untuk membantu menghilangkan banyak penyakit demam dan infeksi yang umum terjadi pada masa itu. Sejak itu Catatan pertama tentang penulisan tanaman obat dan berbagai khasiatnya telah dikumpulkan oleh orang-orang mesir kuni. Dimana saat itu para pendeta Mesir kuno telah melakukan dan mempraktekkan pengobatan herbal. Dari abad 1500 SM telah dicatat membuat berbagai tanaman obat, termasuk jintan dan kayu manis.

Oran-orang Yunani dan Romawi kuno juga telah melakukan pengobatan herbal. Disaat mereka mengadakan perjaalanan ke berbagai daratan yang baru para dokter mereka menemukan berbagai tanaman obat baru seperti rosemary dan lavender. Hal itupun langsung diperkenalkan pada berbagai daerah baru. Berbagai kebudayaan yang lain yang memiliki sejarah penggunaan pengobatan dengan menggunakan tanaman obat atau herbal adalah orang Cina dan India.

Di Inggris, penggunaan tanaman obat di kembangkan bersamaan dengan didirikannya biara-biara di seluruh negeri, dan memiliki tamanan obat masing-masing yang digunakan untuk merawat para pendeta maupun para penduduk setempat. Pada beberapa daerah, khususnya Wales dan Skotlandia, orang-orang Druid dan para penyembuh Celtik memiliki tradisi lain tentang herbalisme, dimana obat-obat dicampur adukkan dengan agama dan ritual. Semakin berkembangnya pengetahuan herbal dan seiring dengan terciptanya mesin cetak pada abad ke 15 telah ada pendistribusian yang pertama tentang penulisan ” tanaman-tanaman Obat”.

Sekitar tahun 1630, John Parkinson dari London menulis tanaman obat dari berbagai tanaman yang sangat berguna. Nicholas Culpepper ( 1616-1654 ) dengan karyanya yang paling terkenal yaitu ” The Complete Herbal and English Physician, Enlarged, diterbitkan pada tahun 1649. pada tahun 1812, Henry Potter telah memulai bisinsnya menyediakan berbagai tanaman obat dan berdagang lintah. Disaat itulah banyak sekali pengetahuan tradisional dan cerita rakyat tentang tanaman obat dapat ditemukan mulai dari Inggris, Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika. Sehingga Potter terdorong untuk menulis kembali bukunya ” Potter’s Encyclopaedia of Botanical Drug and Preparatians “, yang sampai saat inipun masih diterbitkan.

Tahun 1864 National Association of Medical Herbalists didirikan, untuk mengorganisir pelatihan para praktisi pengobatan herbal serta mempertahankan standart-standar praktek pengobatan. Hingga awal abad ini banyak institute telah berdiri untuk mempelajari pengobatan herbal. Berkembangnya penampilan obat-obatan herbal yang lebih alami telah menyebabkan tumbuhnya dukungan dan popularitasnya. Obat-obatan herbal dapat dipandang sebagai pendahuluan farmakologi modern, tetapi sekarang obat-obatan herbal ini terus sebagai metode yang efektif dan lebih alami untuk menyembuhkan dan mencegah penyakit.

Secara global, obat-obatan herbal lebih umum dipraktekkan daripada obat-obatan konvensional. Di berbagai daerah pedesaan pengobatan herbal terus tumbuh subur dalam berbagai cerita rakyat, tradisi, dan praktek local. Kemajuan yang sangat pesat sampai saat ini dimana banyak sekali para herbalis mengandalkan pengetahuan mereka tentang obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk merawat dan mengobati penyakit.

Sejarah tanaman obat atau herbal di Indonesia berdasarkan fakta sejarah adalah obat asli Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa di wilayah nusantara dari abad ke 5 sampai dengan abab ke 19, tanaman obat merupakan sarana paling utama bagi masyarakat tradisional kita untuk pengobatan penyakit dan pemeliharan kesehatan. Kerajaan di wilayah nusantara seperti Sriwijaya, Mojopahit dan Mataram mencapai beberapa puncak kejayaan dan menyisakan banyak peninggalan yang dikagumi dunia, adalah produk masyarakat tradisional yang mengandalkan pemeliharaan kesehatannya dari tanaman obat.

Banyak jenis tanaman yang digunakan secara tunggal maupun ramuan terbukti sebagai bahan pemelihara kesehatan. Pengetahuan tanaman obat yang ada di wilayah Nusantara bersumber dari pewarisan pengetahuan secara turun-temurun, dan terus-menerus diperkaya dengan pengetahuan dari luar Nusantara, khususnya dari China dan India. Tetapi dengan masuknya pengobatan modern di Indonesia, dengan didirikannya sekolah dokter jawa di Jakarta pada tahun 1904, maka secara bertahap dan sistematis penggunaan tanaman obat sebagai obat telah ditinggalkan. Dan telah menggantungkan diri pada obat kimia modern, penggunaan tanaman obat dianggap kuno, berbahaya dan terbelakang.

Sebagai akibatnya masyarakat pada umumnya tidak mengenal tanaman obat dan penggunaannya sebagai obat. Namun masih ada sebenarnya upaya yang melestarikan dan memanfaatkan tanaman obat dalam dokumentasinya seperti K. Heyne, menulis buku ” Tanaman Berguna Indonesia “,. Dr. Seno Sastroamidjojo, dengan bukunya ” Obat Asli Indonesia “. Dan beberapa upaya mengembangankan pengetahuan tanaman obat Indonesia dan aplikasinya dalam pengobatan. Saat ini obat herbal digunakan di klinik pengobatan Tradisional RS.Dr.,Sutomo Surabaya dan beberapa rumah sakit besar di Jakarta juga sudah menyediakan obat herbal.

Beberapa dekade terakhir ini terdapat kecenderungan secara global untuk kembali ke alam. Kecenderungan untuk kembali ke alam atau ” back to nature “, dalam bidang pengobatan pada herbal ini sangat kuat di Negara-negara maju dan berpengaruh besar di Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan pelatihan herbalpun kini telah banyak diminati masyarakat. Pentingnya Kepedulian kita akan tanaman obat atau herbal yang telah sejak jaman dulu kala perlu di lestarikan dan di terapkan seperti negara-negara lain yang telah menggunakan herbal sebagai obat leluhur.

Selasa, 05 Mei 2009

Pembuatan Pupuk Organik

Pembuatan Pupuk Organik dengan Biotama
Memasuki abad 21 ini, gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi trend baru masyarakat dunia. Orang makin menyadari bahwa penggunaan bahan-bahan kimia non-alami, seperti pupuk dan pestisida kimia sintetis serta hormon tumbuhan, dalam produksi pertanian ternyata berdampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Pertanian organik merupakan suatu sistem pertanian berkelanjutan yang diakui oleh Komisi Eropa (European Commission) dan Agricultural Council pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1992. Pengolahan Tanah dan Pemberian Pupuk Organik secara Umum
.
Tanah yang akan ditanami dengan sayur sayuran harus diolah dahulu dan diberi pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak, limbah limbah organik yang telah diolah dengan Biotama 3 (cara membuat pupuk organik dari kotoran ternak maupun limbah/sampah organik ada di belakang *)
Setiap Hektar ladang atau sawah yang akan ditanami sayuran diberi pupuk kandang/pupuk organik (antara 1 sd 20 ton per Ha - nya). Jika tanah mempunyai kandungan bahan organik > 3 (tanah masih subur) maka pemupukan cukup dengan dosis 1 ton/ha, jika kandungan bahan organik antara 1 – 2% maka disarankan pemberian pupuk kandang/pupuk organik sebanyak antara 1 – 3 ton/ha, namun jika tanah telah banyak pencemarannya (rusak) atau tanah yang mempunyai kandungan bahan organik <1% maka pupuk kandang yang dibutuhkan semakin banyak (antara 3 – 20 ton /ha).
Banyaknya pupuk organik juga tergantung kemiringan lahannya. Semakin lahan miring dimana banyak terjadi erosi dan lapisan olah tanah hilang maka dosis pupuk orgnik bisa mencapai 20 ton/ha. Tanah dicampur dengan pupuk organik, digemburkan lalu dibentuk bedengan untuk mempermudah memelihara tanaman/sayuran yang ditanam. Untuk menggemburkan tanah siram/semprot dengan air yang telah dicampur Biotama 1 dengan perbandingan (Biotama 1 : 1 liter + air : 30 - 50 liter)
.
CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK DARI LIMBAH LIMBAH ORGANIK
Cara membuat Pupuk Organik dari kotoran ternak / kotoran manusia Bahan :
1. Kotoran Ternak / manusia 300 kg.
2. Dedak 10 kg.
3. Sekam 200 kg.
4. Gula ( 10 sendok makan ).
5. BIOTAMA 3 300 - 500 ml (30 – 50 tutup botol), tergantung bau kotoran.
6. Air secukupnya
.
Cara Pembuatan :
1. Larutkan BIOTAMA 3 dan gula ke dalam air dalam timba berisi air ± 7 liter (bisa ditambah dan dikurangi sesuaikan kondisi kelembaban kotoran ternak)
2. Kotoran Ternak, sekam dan dedak dicampur secara merata.
3. Disiram larutan BIOTAMA 3 secara berlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, bila kepalan dilepas, maka adonan akan mekar.
4. Adonan digundukkan di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni, selama 3-4 hari.
5. Pertahankan suhu gundukkan adonan 40-500 C. jika suhu lebih dari 500C, bukalah karung penutup dan gundukkan adonan dibalik-balik, kemudian ditutup lagi dengan karung goni. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap 5 jam.
6. Setelah 2 atau 3 minggu saat suhu sudah stabil dan warna pupuk organik menjadi lebih gelap (coklat tua ataupun hitam) itu pertanda telah terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.
.
Cara Membuat Pupuk Organik dari sampah organik secara cepat
Bahan :
1. Jerami kering/daun-daun kering/ sekam/serbuk gergaji atau bahan apa saja yang dapat difermentasi 200 kg.
2. Pupuk Organik yang sudah jadi 20 kg.
3. Dedak 20 kg.
4. Gula pasir (5 sendok makan).
5. BIOTAMA 3 200 ml (20 tutup botol).
6. Air secukupnya.
.
Cara Pembuatan :
1. Larutkan BIOTAMA 3 dan gula ke dalam air.
2. Jerami kering (atau bahan apa saja yang dapat difermentasi), potong kecil kecil, kemudian dicampur dengan Pupuk Organik yang sudah jadi dan dedak secara merata.
3. Siram larutan BIOTAMA 3 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, dan bila kepalan dilepas, maka adonan akan megar.
4. Adonan dicetak diatas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm, kemudian ditutup dengan karung/terpal , selama 3-4 hari.
5. Pertahankan suhu gundukkan adonan 40-500C. jika suhu lebih dari 500C, bukalah karung penutup dan adonan dibalik-balik, kemudian tutup lagi dengan karung goni. Suhu yang tinggi mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap pagi dan sore.
6. Setelah 5 – 7 hari Pupuk Organik telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.
.
Cara membuat Pupuk Organik dari Jerami Padi
Bahan :
1. Jerami 200 kg termasuk berbagai sampah pekarangan, daun daun, rumput dll dipotong 1 – 5 cm (lebih kecil akan lebih bagus)
2. Dedak 10 kg.
3. Sekam 200 kg.
4. Gula pasir 10 sendok makan.
5. BIOTAMA 3, 200 ml (20 tutup botol).
6. Air secukupnya .
.
Cara Pembuatan :
1. Tuangkan BIOTAMA 3 ke dalam timba berisi air ± 7 liter, tambahkan gula pasir. Air bisa ditambah ataupun dikurangi sesuai dengan kelembaban dari jerami/dedaunan sebagai bahan pupuk organik.
2. Jerami, sekam dan dedak dicampur secara merata.
3. Siramkan larutan BIOTAMA 3 secara perlahan lahan ke dalam adonan secara merata sampai Kadar Air 30% (yaitu saat adonan mudah dikepal dengan tangan namun kepalan mudah hancur saat digulingkan).
4. Adonan ditumpuk/dicetak di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 cm , kemudian ditutup dengan karung goni atau terpal, selama 2-3 hari.
5. Pertahankan suhu tumpukan jerami 40-500 C. Jika suhu lebih dari 500 C, bukalah karung goni atau terpal penutup dan gundukan adonan dibolak balik, kemudian ditutup lagi. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan Pupuk Organik menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan. Pengecekan suhu dilakukan setiap pagi dan sore.
6. Setelah jerami berwarna hitam kecoklatan dan lebih hancur ukurannya, maka Pupuk Organik telah siap digunakan.
.
CATATAN untuk PEMBUATAN PUPUK ORGANIK dari semua bahan:
Apabila pada hari ke 3 masih belum terasa panas berarti pembuatan kurang berhasil hal ini bisa disebabkan karena beberapa hal, antara lain :
• konsentrasi BIOTAMA 3 terlalu sedikit bila dibanding limbah yang ada,
• penutup masih kurang rapat, atau
• ubin tidak rata sehingga ada air yang menggenangi atau terlalu banyak jumlah air yang tercampur dalam proses pembuatan pupuk organik.
.
Untuk mengatasi hal hal tersebut maka langkah yang dilakukan disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi, yaitu
• tambahkan BIOTAMA 3 secara langsung
• penutup diteliti agar tertutup rapat
• buat kemiringan sedemikian rupa sehingga tidak ada air yang tergenang di sekitar lahan pembuatan pupuk organik tsb
< Previous

Budidaya Kakao Organik PDF Print E-mail
Dicanangkannya Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional karena dipandang bahwa komoditi Kakao merupakan komoditi yang sangat penting karena hampir 90% dimiliki oleh petani (Perkebunan Rakyat) dari total areal sekitar 1,5 juta ha, selain juga akhir-akhir ini terjadi penurunan produksi di tingkat petani dikarenakan serangan hama, kurangnya pemeliharaan dan terlambatnya melakukan peremajaan, disamping itu kwalitas kakao kita tergolong rendah. Negara-negara pengimpor kakao Indonesia menginginkan standarisasi dari kakao kita, diharapkan dengan gerakan ini produksi kakao kita dapat diperbaiki sehingga dapat menghasilkan biji kakao yang berkwalitas baik. Tidak bias kita pungkiri bahwa kakao kita di pasar dunia digolongkan kelas II dikarenakan banyaknya kotoran yang terkandung didalamnya. Akibat mutu rendah, potensi kerugian ekspor biji kakao Indonesia ke AS mencapai + US $ 301,5/ton. Untuk itu Kakao Organik sedang diincar oleh importir kakao. Bagaimana budidaya kakao organik ? .
.
Persiapan Lahan
- Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya
- Gunakan juga tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao ( 1 : 3 )
.
Pembibitan
- Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok
- Rendam biji kakao dengan Biotama 1, untuk mempercepat masa dormansi
- Biji kakao dikecambahkan dengan karung goni dalam ruangan, setiap hari disiram 2 kali dalam sehari (pagi dan sore)
- Sementara itu siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm , isi dengan tanah dan pupuk kandang (1 : 1) yang dibuat menggunakan Biotama 3.
- Kecambah dipindah ke Polybag jika 2-3 hari yang berkecambah lebih 50%
- Tiap 2 sd 3 minggu sekali bibit disemprot dengan campuran Biotama 1 dan air (1 tutup botol Biotama 1 dilarutkan dalam air 1 liter) pada pagi hari (sebelum jam 7 pagi) atau sore hari (setelah jam 16.00) setelah matahari mulai redup.
.
Penanaman dan Pemeliharaan
Pada akhir musim hujan, buat lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm, berikan pupuk kandang (yang dibuat dengan Biotama 3) sebanyak 0,5 sd 1 kg/lubang. Sebelum penanaman bibit dipastikan bahwa tanaman naungan sudah mempunyai tinggi tanaman sekitar 1 sd 1,5 m.
.
Setelah tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, semprotkan larutan Biotama 1 & Biotama 5 pada tanaman di pagi hari sebelum matahari terbit kalau di Indonesia sebelum jam 7 pagi atau sore hari kalau di Indonesia sekitar setelah jam 4 sore (saat matahari belum terbit ataupun matahari sudah terbenam) , waktu penyiraman setiap 2 minggu sekali secara rutin sampai tanaman berbunga. Tanaman disemprot 5 – 6 tangki @ 15 liter larutan Biotama **) tiap Hektar.
< Previous Next >

Links :
Pertanian Organik
Departemen Kesehatan
Departemen Pertanian
PT.Setiawan Fitri Wangi
Utomodeck Metal Works
www.UtomoRattan.com
PT. Balai Lelang Tunjungan

Biotama 2007