Halaman

Selasa, 18 Januari 2011

Pemanfaatan Bioteknologi

Pemanfaatan Bioteknologi Diharapkan Dapat Menanggulangi Kelaparan Dunia dan Meningkatkan Kesejahteraan Petani
Submitted by admin on Sat, 15/05/2010 - 05:39

Mexico - Konferensi teknis internasional Organisasi Pangan Dunia (FAO) tentang bioteknologi pertanian di negara-negara berkembang (FAO International Technical Conference on Agricultural Biotechnologies in Developing Countries 2010 /FAO ABDC 2010) telah berlangsung di Guadalajara, Mexico pada tanggal 1-4 Maret 2010. Pertemuan yang merupakan hasil kerjasama FAO, IFAD Pemerintah Mexico serta beberapa lembaga riset internasional ini dihadiri oleh sekitar 350 orang dari kalangan peneliti, LSM, Oranisasi Internasional / Regional, pemerintah, serta beberapa perwakilan setingkat Menteri dari 56 negara dan 26 organisasi yang bertindak sebagai pengamat. Delegasi RI terdiri dari Atase Pertanian Roma, Counsellor Multilateral KBRI Roma, 3 (tiga) orang peneliti dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan, serta unsur KBRI Mexico City.

Konferensi yang mengambil tema: “The Technical Conference on Agricultural Technologies in Developing Countries: Option and Opportunities in Crops, Forestry, Livestock, Fisheries, and Agro-industry to face the Challenges of Food Security, and Climate Change” dihadiri oleh paling tidak sekitar 200 lebih peserta yang berasal dari 50 negara lebih dan utusan berbagai organisasi Internasional dan LSM dunia termasuk Indonesia yang diwakili oleh utusan institusi Kementrian Pertanian, Kementrian Kehutanan, dan unsur KBRI Roma dan KBRI Maksiko.

Dalam kata sambutannya Asisten Dirjen FAO, Mr. Madibo Traore, atas nama Dirjen FAO, mengatakan bahwa Bioteknologi modern dan juga yang konvensional merupakan alat yang sangat berpotensi bagi sektor pertanian dalam arti luas termasuk perikanan dan kehutanan. Dikatakan selanjutnya bahwa walaupun demikian bioteknologi menurut Mr. Traore belum memberikan pengaruh yang memadai terhadap kehidupan petani di Negara berkembang.

Isu penting yang muncul apakah mungkin Bioteknologi dapat menanggulangi kelaparan dunia?. Pertanyaan tersebut merupakan salah satu pertanyaan utama yang mengemuka pada diskusi yang terjadi pada konferensi tersebut. Isu lain yang juga menjadi pertanyaan utama adalah sejauh mana peranan bioteknologi bagi peningkatan kesejahteraan kaum miskin di pedesaaan Negara berkembang.

Konferensi yang membahas aspek Bioteknologi dalam arti luas ini diarahkan untuk tidak terfokus ke tema bahasan tentang GMO (Genetically Modified Organisms) yang selama ini memang merupakan tema yang masih bersifat kontroversial, tetapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat teknis dan menghindari aspek yang terkait dengan politik.

Dalam siaran persnya FAO juga mengemukakan beberapa inovasi yang dihasilkan oleh bioteknologi ini beberapa misalnya: padi hibrida Afrika, hasil susu sapi perah di Bangladesh, penggunaan metode berdasarkan DNA untuk mendeteksi penyakit udang di India.

Dari konferensi ini diharapkan akan dihasilkan beberapa rekomendasi dan masukan bagaimana peranan Bioteknologi di Negara berkembang dalam menanggulangi persoalan penyediaan pangan dan penanggulangan kemiskinan di tengan terjadinya perubahan lingkungan hidup dan kelaparan dunia.

Hasil penting lainnya yang disepakati adalah dengan pemanfaatan Bioteknologi hendaknya dapat lebih memperhatikan kepentingan pertanian skala kecil dan kesejahteraan petani. Selain keputusan tersebut peserta pertemuan juga sepakat perlunya pendanaan yang berkelanjutan untuk mengembangkan bioteknologi di Negara berkembang dengan melalui kerjasama yang melibatkan sektor pemerintah, swasta, dan organisasi kemasyarakatan khususnya yang menaungi kepentingan petani dan pertanian dalam arti luas.

Sebagai salah satu pertemuan penting yang dilakukan FAO terkait dalam penerapan bio teknologi, delegasi Indonesia menilai pertemuan ini cukup berhasil dalam memetakan kembali peran penting bio teknologi dalam pembangunan pangan dan pertanian di negara berkembang dalam era globalisasi ini.

Delegasi Indonesia pada kesempatan ini menekankan perlunya Organisasi Internasional terkait dan negara donor yang sementara ini merupakan pemilik utama bio-tekonologi untuk mengupayakan apa yang disebut dengan “pro-poor bio technologies”. Sedangkan delegasi lain menambahkan agar isu keterlibatan, pengetahuan dan kontrol petani atas penerapan teknologi termaksud.

Sumber : Atani KBRI - Roma
Berita terbaru

*
Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian
*
Mentan Lantik 109 Pejabat Eselon II
*
Mentan Lantik 17 Pejabat Eselon I
*
Cuaca Ekstrem Ancam Pertanian RI
*
Penandatangan Letter of Intent ( LOI ) Bidang Pertanian Indonesia - Canada
*
Indonesia – USA Partnership: Agricultural Technology and Investment Forum
*
Panen Padi SRI di DAS Citarum
*
Perpanjangan Batas Usia Pensiun (BUP) Penyuluh Pertanian
*
Kepala BBP2TP Serahkan Sertifikat ISO 9001 : 2008 ke 7 BPTP
*
Mentan: Ketersedian Pangan Kita Aman!
*
Mentan: Anggaran 2011 Kementan Naik 88,8%
*
Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI Ke NTT
*
Kunjungan Sekjen Kementerian Pertanian ke Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang
*
Workshop Aplikasi Pemetaan Hama Penyakit Hewan Karantina dengan Teknologi Pemetaan Digital
*
Pertemuan Koordinasi ke-4 Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Nasional
*
Tahun 2010 Harga Teh Dunia Diperkirakan Stabil
*
Mewaspadai Harga Beras Dunia Yang Mulai Merangkak Naik
*
Staf Khusus Menteri Pertanian Hadiri Proses Pemusnahan Babi
*
Visi Pangan Perkebunan 2020
*
Pemanfaatan Bioteknologi Diharapkan Dapat Menanggulangi Kelaparan Dunia dan Meningkatkan Kesejahteraan Petani
*
Memantau Gaung Gerakan "Go Organik 2010"
*
"e-Lelang" Memutus Mata Rantai Petani dan Tengkulak
*
“ONE DAY NO RICE” Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan dengan Mewarisi Semangat Kartini
*
Kincir air mampu atasi kekeringan sawah petani
Copyright © 2010 Kementerian Pertanian Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar